Ketika pulang kampung kemarin, saya sampai di kota kelahiran saya dan turun dari bus sekitar jam 5 pagi kurang sedikit. Dari pemberhentian bus masih beberapa kilometer lagi untuk mencapai rumah saya. Karena masih cukup pagi, saya tidak ingin membangunkan kakak saya untuk sekedar menjemput. Toh saya nanti bisa naik ojek di jalan masuk ke desa tempat orang tua saya tinggal.
Setelah berjalan kaki sekitar setengah jam, saya sampai di jalan masuk menuju kampung saya. Ternyata pangkalan ojek masih sepi, dan tidak ada tanda-tanda kendaraan yang lewat. Akhirnya saya putuskan untuk berjalan kaki saja, toh hanya beberapa kilometer jaraknya.
Sambil berjalan kaki dan menikmati udara pagi yang sangat segar, saya sedikit bernostalgia dengan jalan yang saya lewati. Dahulu kala, ini jalan yang saya lewati sehari-hari untuk berangkat dan pulang sekolah. Sekarang jalannya di-cor beton karena aspal tidak mampu menahan pergerakan tanah yang labil.
(more…)
Tulisan ini aselinya saya tulis di ponsel saya pada tanggal 20 Juni dinihari, di dalam bis yang sedang melaju menuju kampung halaman saya. Sebenarnya ingin langsung saya publish, tetapi karena pulsa yang saya beli di Terminal Tirtonadi belum ada masuk akhirnya cuma tersimpan di Notes ponsel. Selamat membaca!
Saat ini saya sedang dalam perjalanan dari Solo ke Purwodadi, kampung halaman saya, dengan menumpang sebuah bus pada jam 3 pagi. Seperti rata-rata bus yang melalui rute ini, sebuah TV 14 inch dipajang di atas kepala supir agar bisa dilihat semua penumpang. Malam ini yang diputar adalah VCD dangdut dari sebuah grup bernama Palapa dari Jombang, Jawa Timur.
Sedang asyik menonton, datanglah sebuah SMS dari Alex penguasa Blangpidie. Ketika saya sedang membaca sms tersebut, mbak biduanita yang cantik dan berada di dalam layar televisi itu tiba-tiba berteriak ‘Mas Alex!’ sambil menggandeng salah satu pemain musiknya. Hahhaha saya kaget
Selanjutnya beberapa biduanita saling bergantian menyanyikan lagu-lagu dangdut, baik yang saya pernah dengar maupun yang belum.
Hingga kemudian seorang biduanita dengan kostum mirip Xena dan rambut laksana megaloman tampil ke panggung. Musik mulai dimainkan, yaitu intro dari lagu The Final Countdown-nya Europe. Saya tidak kaget karena intro lagu ini memang cukup populer dan sering dicomot di beberapa penampilan panggung.
Yang membuat kaget adalah ketika saya baca keterangan judul lagu dan nama penyanyinya. Ternyata mbak Xena berambut megaloman tersebut benar-benar menyanyikan lagu The Final Countdown dalam irama dangdut! Saya jadi kembali merenung betapa dinamisnya negara ini
Kemudian tampil biduanita baru yang tadi belum sempat kelihatan manggung, menurut tulisan di layar televisi namanya adalah Mbak Ratna Dewi, badannya kecil dan berhidung mancung, serta matanya lebar seperti Siti Nurhaliza. Cantik dan menarik.
Lha kampret, tiba-tiba VCD dimatikan oleh kondektur bis dan diganti dengan VCD karaokenya Mbak Rita Sugiarto
Kalau ditanya apa hadiah ulang tahun paling berkesan tahun ini, jawabannya sederhana. Yaitu munculnya kampung saya di Google Maps dengan tampilan yang jauh lebih jelas dari sebelumnya
View Larger Map
Semaleman bernostalgia tentang sungai, kuburan, sawah dan tempat-tempat lainnya yang sering saya jadikan tujuan bermain waktu kecil, atau sekedar berburu burung menggunakan ketapel. Sadis? Tenang saja, seumur-umur peluru ketapel saya baru satu kali saja mengenai burung. Itupun burungnya terbang lagi!
Saya tadi sedang kelayapan di dunia antah-berantah, kemudian menemukan tautan dari sebuah website dari Belanda yang menyimpan banyak foto-foto dari jaman kolonialisme.
Iseng saya masukkan kata kunci “grobogan”, nama kabupaten tempat orang tua saya tinggal, dan kagetlah saya karena ada 28 foto yang muncul di halaman tersebut. Dan yang paling bikin saya penasaran adalah munculnya foto sebuah candi dengan keterangan “Tempel te Soekoeh bij Poerwodadi” atau “Candi Sukuh di Purwodadi”.

Saya jadi penasaran, jangan-jangan orang Belanda ini salah dalam memasukkan kategori foto atau mungkin dahulu kala negatif fotonya tertukar dengan dokumentasi perjalanannya ke Tawangmangu? Atau bisa jadi ada cerita berbeda mengenai candi ini yang tidak saya ketahui.
Saya telah meninggalkan komentar di halaman tempat foto tersebut ditampilkan, semoga ada balasan.
Note: gambar di atas merupakan screenshot layar dari tampilan halaman ini, foto Candi Sukuh pada tahun 1930.
Saya termasuk manusia dengan sistem navigasi jelek. Meskipun telah melewati suatu jalur berkali-kali –apalagi kalau nebeng atau mbonceng– tidak akan menjamin bahwa saya ingat jalan tersebut, terlebih lagi jika di tempat-tempat baru. Karena itu saya sangat menggemari teknologi positioning karena teknologi tersebut sangat membantu saya.
Asyiknya, saya tidak butuh perangkat GPS mahal-mahal untuk memanfaatkan teknologi positioning tersebut. Saya cukup menggunakan ponsel yang diinstal Google Maps di dalamnya dan saya ready to go. Bahkan ponsel tidak perlu ada modul GPS di dalamnya, bisa segala jenis ponsel selama bisa diinstal Google Maps karena Google Maps menggunakan teknologi Location Based Service.
Kemudian beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan modul GPS merk i-GotU dari My Digital Life sebagai hadiah kuis. Perangkat ini hanya berfungsi sebagai data logger dan modul GPS, jadi sama sekali tidak ada layar untuk melihat-lihat sesuatu. Tombolnya saja cuma satu, bulet gede di tengah 
(more…)
Pada hari Sabtu pagi kemain, sekitar jam 03.00 saya berangkat ke Kaliurang, nyusul beberapa teman yang sudah datang sejak sore sebelumnya. Namun ketika sampai villa tempat mereka menginap, ternyata tidak ada orang samasekali dan villa dalam keadaan terkunci. Info yang saya dapatkan via sms adalah mereka sedang jalan-jalan malam ke Goa Jepang yang tidak jauh dari villa tersebut.
Daripada sendirian di villa, saya putuskan untuk menyusul mereka. Tadinya berpikir untuk mengendarai motor saja, namun rasanya terlalu berisik di pagi sebuta itu. Jadinya motor saya parkir di villa, baru kemudian jalan kaki menuju lokasi Goa Jepang. Namun yang menjadi masalah adalah saya tidak mengetahui kemana arah menuju Goa Jepang dari tempat saya berada!
(more…)
Ada 3 blog saya yang ingin saya masukkan ke dalam agregator milik CahAndong, namun saya tidak ingin membebani Kang Zamroni dengan memasukkan 3 URL yang berbeda, dan mungkin bisa bertambah jumlahnya.
Akhirnya saya manfaatkan Yahoo! Pipes untuk membuat sebuah agregator sederhana yang akan mengambil data dari RSS feed di ketiga blog yang saya kelola. Selanjutnya pipes ini akan menyortir entry terbaru (berdasar tanggal posting) dan mengirimkan hanya 9 output terbaru saja.
Saya kurang yakin apakah langkah keempat dalam alur piping di sebelah kiri ini ada gunanya atau tidak, agak malas ngotak-atik lagi hehe.
Enaknya Yahoo! Pipes ini adalah kita bisa memilih output yang diinginkan. Dalam hal ini saya memilih output dalam bentuk RSS, lalu saya grab dan bisa diakses dengan mudah dari alamat rss.sandalian.com
Jadi jika nanti saya nambah blog lagi, saya cukup memasukkan ke dalam pipe ini saja sebagai input awal dan output-nya akan otomatis menyesuaikan.
Beginilah kalau terlalu malas he..he..
Ketika sedang jalan-jalan di sebuah swalayan di Yogyakarta, saya menemukan tumpukan buah berbedak di antara buah-buahan bertampang mulus lainnya. Saya jadi ingat, itu buah kesemek dan terakhir (dan pertama kali) makan adalah beberapa tahun yang lalu, ketika masih tinggal di Bantul. Lalu saya dan Puan Peri memutuskan untuk membelinya karena dia juga penasaran dengan buah tersebut.

Singkat cerita, kami jatuh cinta dengan buah satu ini. Meskipun tampangnya kurang menggoda, namun rasanya sungguh eksotis. Kombinasi manis dan sepat, serta kontur daging yang mirip dengan buah sawo, tapi rasanya mirip-mirip pepaya yang masih mengkal.
(more…)
Sebelum berangkat kerja tadi saya mampir membeli satu kaleng Greendsand dingin, rencananya untuk dinikmati sambil mengerjakan gawean. Sampai di kantor, ternyata sudah ada satu botol besar Coca Cola yang sudah terbuka. Jadinya saya minum Coca Cola dulu.
Ndilalah karena kembung, saya lupa bahwa ada Greensand di dalam tas. Tengah malam baru saya cek dan sudah tidak dingin lagi. Mana enak minum greensand anget?? #huft
Lalu saya ambil air dingin dari dispenser, saya campur garam, dan rendam kaleng Greensand selama beberapa menit.

Voila, Greensand dingin pun siap dinikmati.
Oh iya, ide ini saya dapatkan beberapa malam yang lalu dari Youtube. Hanya saja di Youtube menggunakan es batu, bukan air dingin dari dispenser

Jika Anda penggemar film action, saya sangat tidak menyarankan Anda untuk menonton film ini. Adegan paling keras yang dilakukan Bruce Willis di film ini adalah ditabrak mobil dan memanjat jendela. SRSLY.