Mungkin kamu memang bener pren, bahwa I’m the numbest (bener gak nulisnya?) person you might know..
Bahkan ketika mendengar hal paling menyakitkan sekalipun, aku hanya tersenyum dan pergi begitu saja. Hingga kemudian aku harus berhenti karena diminta agar jangan pergi dan membicarakannya. Aku terpaksa harus menuruti, demi sebuah penghormatan.
Eh tentang apa ini? Yang jelas bukan tentang ultraman dan kabel bawah laut yang putus
Kemarin, kabel bawah laut putus lagi..
“Dua buah kabel telekomunikasi di bawah laut pada hari Selasa kemarin (29/1) dilaporkan putus. Salah satu kabel telekomunikasi yang putus tersebut dilaporkan terletak di dekat Alexandria, Mesir. Sedangkan satu kabel bawah laut yang lain terletak di lepas pantai Marseille, Perancis. Kedua buah kabel bawah laut ini dilaporkan putus dalam waktu hampir bersamaan, hanya berselang sekitar satu jam antar putusnya kabel yang satu dengan yang lain.”
Dan akhirnya ketemu penyebab kenapa kabel bawah laut itu bisa putus..

Kabel itu putus keinjek godzilla!

Ada pertanyaan yang muncul kenapa Opera Mobile melewati versi 9 dan langsung menjadi versi 9.5, berikut ini adalah alasannya.
Opera saat ini bercita-cita untuk membawa web ke segala aspek kehidupan manusia. Karena itu, Opera kepengen memberikan tampilan yang sama antara browsing menggunakan PC maupun gadget. Nah, untuk mencapai tujuan tersebut maka rendering engine yang digunakan untuk menampilkan web baik di PC maupun di gadget haruslah sama.
Secara Opera untuk desktop sudah mencapai versi 9.5 maka Opera Mobile ikut-ikutan jadi versi 9.5 dan sama-sama menggunakan rendering engine yang bernama Presto (Mungkin Om Jon pernah ke Indonesia dan makan bandeng presto kali).
Moga-moga Opera Mobile versi 9.5 cepet tersedia untuk Symbian UIQ 3.0 dan moga-moga jadi gratis ha.ha.
Eh iya, ada pertanyaan lain juga. Apa beda Opera Mobile dengan Opera Mini? Meskipun sama-sama dipasang di henpon, Opera Mobile hanya jalan di henpon bersistem operasi Symbian, Windows Mobile dan Linux. Sedangkan Opera Mini bisa jalan di henpon apa saja asal tersedia Java di dalamnya.
Soal perbedaan cara kerja dan fiturnya, besok-besok aja yah, lagi ngantuk

Selamat Tahun Baru semuanya..

Dian Sastro, –menurut koran kuning online– menolak sensor film (namun mendukung moderasi, menurut saya).
Kabarnya, konon pada masa dewa-dewi Yunani, ada seorang dewa yang sedang marah di kahyangan. Dalam puncak kemarahan itulah dia menggebrak meja sehingga menimbulkan suara yang sangat keras. Suara tersebut sampai ke bumi dalam wujud halilintar dengan kilatan cahaya yang menyilaukan dan suara yang menggelegar sehingga menggetkan seluruh manusia yang ada.
Sedemikian kerasnya, badan manusia sampai terbelah dua dan masing-masing melarikan diri mencari selamat dari kemarahan sang dewa..
Tahun berlalu dan belahan-belahan manusia tersebut hidup dalam kesendirian. Masing-masing mereka berkelana untuk mencari belahan jiwa dan badannya di masa lalu agar hidup mereka serasa lengkap. Beberapa menemukan, beberapa masih tetap mencari.
Lalu sampailah kepada jaman di mana saya hidup, dan proses pencarian tentu saja masih berjalan. Tapi dalam suatu kontemplasi saya menemukan hal yang mengusik pikiran..
Apa iya badan saya di jaman dewa-dewa Yunani itu cuma terbelah menjadi dua? Bagaimana kalau ternyata saya di masa itu terbelah menjadi tiga, empat atau malah lima pecahan? Bagaimana jika lebih dari itu?
Kemarin malam benwit di kost dilepas lliar oleh Kangdiman, kayaknya lagi pengen ngetes ketahanan jaringan terhadap arus benwit yang membabi buta. Kayaknya lho..
Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, saya segera menuju gals.graphis.ne.jp zend.com dan download Zend Studio terbaru yaitu Zend Studio for Eclipse. Setelah sukses terdownload, segera saya instal dan test drive..
Ternyata lebih ringan dan lebih nyaman digunakan daripada versi sebelumnya. Tampaknya akan saya poligamikan dengan Komodo Edit dulu sambil menyelidiki kenikmatan memakai keduanya.
Sekarang saya sedang menunggu dapet benwit kenceng lagi untuk download versi linuxnya ^_^
Setelah sesiang suntuk coding dan telekonferensi membahas tentang The Prophet, sorenya saya meluncur ke arah Malioboro menuju angkringan tugu.
Dalam suasana gerimis, jadah bakar dan teh anget gula batu sungguh nikmat. Maaf saya ga bisa menceritakan kenikmatan itu karena belum tentu saya mengetahui parameter nikmat Anda dan sebaliknya.
Di belakang saya, sekelompok pria berumur sedang ngerumpi tentang pemerintahan, lumpur lapindo dan pepesan-pepesan kosong lainnya. Saya sering menjumpai mereka di sini dan sepertinya selalu membahas hal-hal yg hampir sama.
Ah, saya lebih memilih chatting n blogwalking menggunakan mGooi saja. Lalu saya membahas pisau dengan anak peramuka dan membaca bagaimana Dian jengkel dengan supir taksi yang menyindirnya.
Dan terus terang saya mangkel, kenapa blog Dian komennya dimoderasi? Dan (lagi) seandainya itu bukan blog seorang Dian yang ingin saya ketahui isi otaknya, malas sekali rasanya menuliskan nama domain sepanjang itu di address bar Opera Mini ini.
Tanpa disangka, detik dot com tidak ketinggalan untuk meramaikan jagad blogging Nusantara, blogdetik dot com namanya. Dan ketika saya lihat siang ini, munculah nama Maia yang akhirnya “nyusul” Dian untuk ngeblog.

Ah, saya jadi dag dig dug..
Sang Paman yang kabarnya duitnya meteran itu, disinyalir membuka sebuah layanan blogging..

Ternyata bukan salon sodara-sodara..
Sehingga Anda harus memupus harapan menjumpai Pakde Mbilung dan Ndorokakung dengan gaya feminin menjadi kapster di salon tersebut ^o^
Info saya dapat dari komen Mas Iman di blognya Siwi pagi ini. Selamat, Paman!