Follow me not!


Mendinginkan Greensand Dengan Air Dispenser

28 April 2010 05:22:23 WIB, under category Gak Penting

Sebelum berangkat kerja tadi saya mampir membeli satu kaleng Greendsand dingin, rencananya untuk dinikmati sambil mengerjakan gawean. Sampai di kantor, ternyata sudah ada satu botol besar Coca Cola yang sudah terbuka. Jadinya saya minum Coca Cola dulu.

Ndilalah karena kembung, saya lupa bahwa ada Greensand di dalam tas. Tengah malam baru saya cek dan sudah tidak dingin lagi. Mana enak minum greensand anget?? #huft

Lalu saya ambil air dingin dari dispenser, saya campur garam, dan rendam kaleng Greensand selama beberapa menit.

Voila, Greensand dingin pun siap dinikmati.

Oh iya, ide ini saya dapatkan beberapa malam yang lalu dari Youtube. Hanya saja di Youtube menggunakan es batu, bukan air dingin dari dispenser :D


Cop Out – Yes, Out!

27 April 2010 05:51:22 WIB, under category Gak Penting

Jika Anda penggemar film action, saya sangat tidak menyarankan Anda untuk menonton film ini. Adegan paling keras yang dilakukan Bruce Willis di film ini adalah ditabrak mobil dan memanjat jendela. SRSLY.


Kenapa Youtube Downloader Tidak Berfungsi

20 April 2010 19:02:18 WIB, under category Programming

Setelah beberapa kali mati dan hidup lagi, kali ini Youtube downloader yang saya pasang di MOBI kembali tidak berfungsi. Penyebabnya adalah karena Youtube menerapkan aturan baru di sistemnya, bahwa alamat IP yang mendownload video haruslah sama dengan alamat IP yang mengirimkan request untuk menampilkan URI video.

Saat ini (dan biasanya) yang mengirimkan request ke Youtube adalah server MOBI kemudian yang mendownload video-nya adalah pengguna MOBI, maka IP-nya berbeda.

Ternyata hal ini dialami juga oleh KeepVid, hingga akhirnya sekarang mereka menggunakan Java applet untuk mendownload video tersebut dengan tujuan agar IP yang menggenerate URI video sama dengan IP yang mendownload video.

Hm, kira-kira adakah solusi lain selain applet Java?


Batu Merah Delima

09 April 2010 05:45:17 WIB, under category Gak Penting

Bagi Anda yang belum mengetahui, batu merah delima (beberapa menulis batu mirah delima) yang saya maksudkan adalah sebutir batu yang dipercaya mempunyai kekuatan khusus/ghaib. Tapi bukan kekuatan tersebut yang akan saya bahas di sini, itu di luar domain saya :)

Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana batu tersebut bisa berpendar mengeluarkan cahaya merah begitu terkena air. Iya, “menyala” begitu saja seolah-olah ada baterai dan bohlam di dalamnya.

Gambar di sebelah adalah salah satu foto yang saya ambil dari blog pusatpusaka yang menampilkan bagaimana batu tersebut berpendar. Tadinya saya ingin menggunakan kata berpijar, tetapi sepertinya kata berpijar mengandung konotasi panas/menyala.

Saya memang belum pernah memegang batu tersebut secara langsung, tetapi dari video dan foto yang saya lihat baik di televisi maupun di internet, it amazes me. Saya kagum bin gumun.

Sudah adakah ahli fisika (bukan metafisika) yang menyelidiki bagaimana batu ini bisa menyala? Matematikawati satu ini menanggapi pertanyaan saya tersebut dengan kemungkinan adanya zat apa gitu –saya cari di arsip twitter gak ketemu– yang memang bisa terbakar ketika bertemu air. Tetapi yang menjadi antitesis dari tanggapan tersebut adalah sepertinya batu merah delima ini tidak menjadi panas dan tidak ada bagian yang menjadi abu, sehingga kemungkinan tidak terjadi proses pembakaran.

Pancaran cahaya inilah yang biasanya dijadikan tolok ukur “kesaktian” batu ini. Semakin banyak dia bisa menerangi gelas air yang di jajar di sekitarnya, semakin tinggi nilai batu ini.

Oh iya, saya pernah melihat seorang pedagang di pasar Klithikan –ketika masih di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta– memajang tulisan di atas selembar kardus menawarkan batu merah delima ini dengan harga –biasanya disebut mahar, agar tidak diartikan sebagai jual beli komersil– 1 milyar rupiah.

Eh tunggu, ternyata di sini harganya 10 kali lipat. Wow.


Buku Yang Terbujur Kaku

06 April 2010 08:30:00 WIB, under category To Think Of

Awal-awal bekerja dahulu, saya selalu berusaha menyempatkan membeli satu buku setiap usai menerima gaji. Waktu itu paling sering berburu buku tentang komputer. Tetapi sejak saya menyadari bahwa banyak buku-buku lokal yang ternyata hanya terjemahan belaka, atau tulisan ala kadarnya, maka jenis buku yang dicari menjadi berbeda.

Tapi itu duluuu. Iya, dengan beberapa huruf “u”.

Sekarang keadaan berbeda, buku-buku terbujur kaku di rak. Jangankan membeli buku baru, buku berjudul Muhammad tulisan Karen Armstrong yang saya beli beberapa tahun yang lalu saja belum selesai saya baca. Mengerikan.

Dan akibat tidak pernah membaca buku lagi, otak rasanya jalan di tempat, bahkan berhenti. Ini lebih mengerikan.

Kasihan buku-buku itu, menunggu untuk dibaca sedangkan saya sok sibuk dengan urusan dunia.