Waktu kecil, di sebelah rumah orang tua saya ada pohon delima. Saya suka dengan aroma bunganya yang wangi-wangi gimana gitu. Namun saat bunganya menjadi buah, agak susah bagi saya untuk menikmati buah delima tersebut.
“Daging” delima mirip dengan biji pepaya, dibalut selaput tipis dan ada cairannya. Cara menikmati buah delima adalah dengan ngemut biji-biji itu sembari sedikit menggigit bijinya agar selaputnya pecah dan cairannya bisa disesap. Delima di samping rumah dulu itu, rasanya masam. Tidak ada manis-manisnya, karena itu tidak pernah dijadikan sebagai “buah beneran” oleh orang-orang rumah.
Dua puluh tahunan kemudian, saya menjumpai lagi buah delima di Jogja. Di Carefour saya nemu delima yang mirip sekali dengan delima jaman saya kecil, kemungkinan dari varietas yang sama, saya sebut saja delima lokal. Harganya 5-7 ribu per buahnya, dan saya beli satu untuk mengobati rasa penasaran.

Penampilannya “kering” seperti delima di samping rumah dulu. Saat dibelah, ternyata benar-benar sama dengan delima jaman saya kecil. Bijinya kecil-kecil dan rasanya masam.

Akhirnya cuma saya sesap beberapa saja, dan sisanya dibuang.
(more…)
Beberapa waktu yang lalu saya membuat suatu wish list, berupa dua buah benda yang saya inginkan. Benda yang pertama, sebuah senter, sudah menjadi kenyataan alias sudah berhasil saya dapatkan.
Sedangkan benda kedua, sebuah pisau Spyderco, belum berhasil saya dapatkan. Namun saat ini sudah mendapatkan penggantinya, sebuah pisau juga yang harganya lebih terjangkau. Sebuah pisau lipat kecil dari Kershaw:

Saya memilih pisau ini karena ukurannya cukup kecil dan bisa dibuka menggunakan satu tangan. Saat dilipat, ukurannya lebih kecil dibanding korek gas yang dijual di Circle K, jadi saat dimasukkan kantong tidak terlalu ngganjel. Tapi karena kecil, malah was-was takut jatuh 
(more…)
Sebagai penggemar alat potong, saya paling menikmati saat-saat memanfaatkan alat potong yang saya miliki sebagaimana mestinya: untuk memotong. Selain saat memotong, hal lain yang saya sukai adalah saat membersihkan dan mengasahnya.

Seperti siang tadi, membersihkan semak-semak di depan rumah menggunakan kukri buatan Nepal, kiriman dari seorang teman yang menamakan dirinya Hommer J. Simpson, dua tahun yang lalu.
Begitu mengetahui akan ada gerhana bulan total malam ini, sore tadi saya segera mengeluarkan teleskop mainan ini dari dalam kamar yang disulap menjadi gudang sementara.
Setelah dikeluarkan dari kardusnya, lalu dirakit dan dipasang di tripod sebagai penyangganya.

(more…)

Selain pisau lipat, benda yang hampir tiap hari saya bawa adalah sebuah senter kecil. Karena membawa senter, saya merasa perlu membawa batere cadangan agar sewaktu-waktu batere yang ada di dalam senter habis bisa langsung diganti.
Namun menaruh beberapa baterai begitu saja di dalam kantong tas kadang agak ribet, karena bisa nyelip kemana-mana. Kadang saya bungkus jadi satu di dalam plastik, tapi kok kurang praktis, juga kurang keren.
Lalu saya lihat di sebuah forum ada yg jualan case merek Power Pax yang bisa menampung 4 batere sekaligus dan bentuknya cukup menarik. Sayangnya hanya tinggal warna army green dan oranye, seri yang glow in the dark sudah habis.
Sekarang nampaknya butuh barang baru lagi, sebuah tas kecil untuk menampung segala EDC (Every Day Carry) saya. Naksir Maxpedition tapi kok harganya agak mahal.
Yap, sesuai tulisan saya sebelumnya, kali ini saya akan menulis mengenai EDC baru saya: sebuah senter imut, Quark Mini 123.

Mari kita keluarkan senter tersebut dari kardusnya..

Isi di dalam kemasan adalah senter, sebuah baterai CR 123, lanyard/gantungan, buku petunjuk, dan sebuah O ring tambahan (di dalam kantong plastik kecil).
(more…)
Jaman dulu ketika blog mulai populer, banyak postingan yang berisi daftar keinginan penulis, atau istilahnya wish list. Demi melestarikan budaya tersebut, kali ini saya ingin posting soal wish list saya.

Sebuah senter, Quark Mini 123.
Kode 123 merupakan jenis batere yang digunakan, yaitu CR 123. Saat ini masih menimbang apakah akan mengambil Quark Mini 123 (menggunakan 1 batere CR 123, output lebih terang namun batere tidak terlalu mudah didapat) atau Quark Mini AA (menggunakan 1 batere AA, ukuran body lebih panjang, output tidak seterang seri 123 namun batere ada di warung-warung).
Senter ini untuk keperluan EDC alias Every Day Carry, terjemahan bebasnya adalah BH atau Bawaan Harian.

Selanjutnya adalah sebuah pisau lipat, Spyderco Delica.
Pisau yang dengan lubang khasnya (ciri khas Spyderco) ini menarik hati saya karena simpel dan ramping. Soal kualitas, kabarnya yahud punya. Pisau ini juga untuk EDC, untuk dibawa sehari-hari.
Semoga alam semesta mengabulkan keinginan saya ini.

Sebuah cerita bahwa seorang pria paling jantan sekalipun bisa kena belekan.
Ketika berkendara di jalanan Jogja, sering saya menemui pecinta warna yang ekspresif. Salah satu yang saya ingat adalah seorang nona yang nampaknya penggemar warna pink.
Helm-nya berwarna pink, jaketnya berwarna hitam dengan motif garis pink, bersarung tangan warna pink garis-garis putih dan juga kaos kaki pink menyala dengan sepatu/sandal warna merah mendekati pink.
Benar-benar suatu polusi warna yang menyakitkan mata.
Pagi hari, belum sempat tidur, Puan Peri bilang kalau lapar. Karena sedang kehabisan cabe sehingga tidak bisa memasak apa-apa, saya menawarkan untuk membeli makanan di pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah.
Pulang dari pasar, saya mendapatkan tiwul seharga seribu rupiah yang cukup untuk memenuhi perut:

Dan istri tercinta mendapatkan gudeg dengan paha ayam yang besar:

Sekarang sudah kenyang, saatnya kembali ke peraduan. Selamat beristirahat.