Follow me not!


Ke Sukabumi

29 December 2010 21:51:27 WIB, under category Gak Penting

Libur Natal kemarin yang kebetulan Hari Sabtu, saya manfaatkan untuk main ke Sukabumi. Meskipun waktunya mepet (hanya 2 hari), tapi kapan lagi ada libur 2 hari, secara tempat kerja saya hanya libur pada Hari Minggu dan tanggal merah. Selain itu tujuan ke Sukabumi adalah menengok keponakan baru, yang lahirnya bertepatan dengan selesainya ijab kabul pernikahan saya :D

Hari Jumat, jam 7.30 malam bis Rajawali berangkat dari pool di Pingit, Jalan Godean. Perjalanan cukup lancar, meskipun agak lambat. Mungkin karena Malam Natal sehingga jalan agak ramai. Hari Sabtu pagi, tiba di Sukabumi pukul 08.00 WIB –dalam keadaan normal, jam 6 pagi biasanya sudah sampai.

Di terminal saya dan istri bingung nyari angkot menuju ke arah rumah kakak perempuan saya, akhirnya kami naik ojek. Saya sedikit geli dengan tukang ojek yang memboncengkan Puan Peri. Tampangnya sangar, dengan tato di leher menyembul dari kerah bajunya. Namun demikian, Aa’ satu itu ngomongnya halus sekali, dengan logat Sunda yang kental. Bahkan saat menghidupkan motor matic-nya, tak lupa dia baca basmalah :D
(more…)


Numpak Kereta Blora Jaya

07 December 2010 04:12:03 WIB, under category Gak Penting

tiket
Saya baru tahu bahwa ternyata ada kereta api dari Purwodadi menuju Bojonegoro untuk kelas bisnis, sebelumnya yang saya tahu hanya ada KRD kelas ekonomi. Kebetulan saya dan istri memang akan kembali ke Bojonegoro, jadilah kami mendapatkan kesempatan numpak sepur ini untuk pertama kalinya.

stasiun ngromboKami naik dari Stasiun Ngrombo, sebuah stasiun kecil sebelum Stasiun Gambrengan yang lebih besar dan terkenal. Harga tiketnya sebesar Rp. 28.000 dan kereta tiba pukul 09.45 WIB.

Sebenarnya ada kereta yang lebih pagi, yaitu sekitar jam 7 pagi dan harga tiketnya jauh lebih murah, yaitu Rp. 5000 saja (KRD atau Feeder Lokal namanya). Namun karena kami malas bangun pagi, akhirnya merelakan membayar lebih, yang penting bisa tidur lebih lama *eh*

Di stasiun tersebut banyak penjual pecel. Menurut cerita orang-orang tua, pecel di stasiun di wilayah Purwodadi sangat terkenal. Makan pecel ditambah peyek kacang, nikmatnya tiada tara.

Akhirnya setelah menunggu tak berapa lama, keretanya tiba. (more…)


Butuh Yang Lebih Kecil

27 November 2010 05:18:29 WIB, under category Gak Penting

blades

Beberapa jam yang lalu saya baru sadar bahwa sepertinya saya butuh pisau yang lebih kecil agar bisa disisipkan di tas perlengkapan mandi :D


Kontes Melipat Pisau

17 November 2010 00:14:58 WIB, under category Gak Penting

Pada sebuah Juminten kemarin, iseng-iseng diadakan kompetisi melipat pisau lipat murah yang saya miliki. Kebetulan pisau tersebut adalah jenis liner lock, sehingga butuh sedikit teknik untuk mengembalikan dalam keadaan tertutup.

melipat pisau

Ada yang bisa menutup pisau tersebut dengan cepat, namun ada juga yang butuh waktu lamaaaa. Bahkan harus diberi kesempatan dua kali.

Bukan salahnya sih, karena memang bukan pegangannya sehari-hari :D


Video Call

06 October 2010 01:34:01 WIB, under category Gak Penting

video call

Saat naik ke atas Bus Eka yang saya tumpangi dari Bungur Asih (Surabaya), pria muda ini nampak asyik melihat-lihat layar ponselnya. Awalnya saya pikir dia sedang melihat video, tapi setelah saya perhatikan dengan seksama nampaknya sedang melakukan video call dengan seorang perempuan muda berjilbab, entah di mana rimbanya.

Saya jadi penasaran, berapa banyak pengguna layanan video call saat ini? Saya sendiri terus terang belum pernah menggunakan layanan tersebut. Sepertinya menarik untuk dicoba, tentu saja setelah saya mempunyai ponsel yang mendukung layanan tersebut.


Pada sebuah bus dinihari

22 June 2010 08:14:30 WIB, under category Gak Penting

Tulisan ini aselinya saya tulis di ponsel saya pada tanggal 20 Juni dinihari, di dalam bis yang sedang melaju menuju kampung halaman saya. Sebenarnya ingin langsung saya publish, tetapi karena pulsa yang saya beli di Terminal Tirtonadi belum ada masuk akhirnya cuma tersimpan di Notes ponsel. Selamat membaca!

Saat ini saya sedang dalam perjalanan dari Solo ke Purwodadi, kampung halaman saya, dengan menumpang sebuah bus pada jam 3 pagi. Seperti rata-rata bus yang melalui rute ini, sebuah TV 14 inch dipajang di atas kepala supir agar bisa dilihat semua penumpang. Malam ini yang diputar adalah VCD dangdut dari sebuah grup bernama Palapa dari Jombang, Jawa Timur.

Sedang asyik menonton, datanglah sebuah SMS dari Alex penguasa Blangpidie. Ketika saya sedang membaca sms tersebut, mbak biduanita yang cantik dan berada di dalam layar televisi itu tiba-tiba berteriak ‘Mas Alex!’ sambil menggandeng salah satu pemain musiknya. Hahhaha saya kaget :D

Selanjutnya beberapa biduanita saling bergantian menyanyikan lagu-lagu dangdut, baik yang saya pernah dengar maupun yang belum.

Hingga kemudian seorang biduanita dengan kostum mirip Xena dan rambut laksana megaloman tampil ke panggung.  Musik mulai dimainkan, yaitu intro dari lagu The Final Countdown-nya Europe. Saya tidak kaget karena intro lagu ini memang cukup populer dan sering dicomot di beberapa penampilan panggung.

Yang membuat kaget adalah ketika saya baca keterangan judul lagu dan nama penyanyinya. Ternyata mbak Xena berambut megaloman tersebut benar-benar menyanyikan lagu The Final Countdown dalam irama dangdut! Saya jadi kembali merenung betapa dinamisnya negara ini :D

Kemudian tampil biduanita baru yang tadi belum sempat kelihatan manggung, menurut tulisan di layar televisi namanya adalah Mbak Ratna Dewi, badannya kecil dan berhidung mancung, serta matanya lebar seperti Siti Nurhaliza. Cantik dan menarik.

Lha kampret, tiba-tiba VCD dimatikan oleh kondektur bis dan diganti dengan VCD karaokenya Mbak Rita Sugiarto :(


Mendinginkan Greensand Dengan Air Dispenser

28 April 2010 05:22:23 WIB, under category Gak Penting

Sebelum berangkat kerja tadi saya mampir membeli satu kaleng Greendsand dingin, rencananya untuk dinikmati sambil mengerjakan gawean. Sampai di kantor, ternyata sudah ada satu botol besar Coca Cola yang sudah terbuka. Jadinya saya minum Coca Cola dulu.

Ndilalah karena kembung, saya lupa bahwa ada Greensand di dalam tas. Tengah malam baru saya cek dan sudah tidak dingin lagi. Mana enak minum greensand anget?? #huft

Lalu saya ambil air dingin dari dispenser, saya campur garam, dan rendam kaleng Greensand selama beberapa menit.

Voila, Greensand dingin pun siap dinikmati.

Oh iya, ide ini saya dapatkan beberapa malam yang lalu dari Youtube. Hanya saja di Youtube menggunakan es batu, bukan air dingin dari dispenser :D


Cop Out – Yes, Out!

27 April 2010 05:51:22 WIB, under category Gak Penting

Jika Anda penggemar film action, saya sangat tidak menyarankan Anda untuk menonton film ini. Adegan paling keras yang dilakukan Bruce Willis di film ini adalah ditabrak mobil dan memanjat jendela. SRSLY.


Batu Merah Delima

09 April 2010 05:45:17 WIB, under category Gak Penting

Bagi Anda yang belum mengetahui, batu merah delima (beberapa menulis batu mirah delima) yang saya maksudkan adalah sebutir batu yang dipercaya mempunyai kekuatan khusus/ghaib. Tapi bukan kekuatan tersebut yang akan saya bahas di sini, itu di luar domain saya :)

Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana batu tersebut bisa berpendar mengeluarkan cahaya merah begitu terkena air. Iya, “menyala” begitu saja seolah-olah ada baterai dan bohlam di dalamnya.

Gambar di sebelah adalah salah satu foto yang saya ambil dari blog pusatpusaka yang menampilkan bagaimana batu tersebut berpendar. Tadinya saya ingin menggunakan kata berpijar, tetapi sepertinya kata berpijar mengandung konotasi panas/menyala.

Saya memang belum pernah memegang batu tersebut secara langsung, tetapi dari video dan foto yang saya lihat baik di televisi maupun di internet, it amazes me. Saya kagum bin gumun.

Sudah adakah ahli fisika (bukan metafisika) yang menyelidiki bagaimana batu ini bisa menyala? Matematikawati satu ini menanggapi pertanyaan saya tersebut dengan kemungkinan adanya zat apa gitu –saya cari di arsip twitter gak ketemu– yang memang bisa terbakar ketika bertemu air. Tetapi yang menjadi antitesis dari tanggapan tersebut adalah sepertinya batu merah delima ini tidak menjadi panas dan tidak ada bagian yang menjadi abu, sehingga kemungkinan tidak terjadi proses pembakaran.

Pancaran cahaya inilah yang biasanya dijadikan tolok ukur “kesaktian” batu ini. Semakin banyak dia bisa menerangi gelas air yang di jajar di sekitarnya, semakin tinggi nilai batu ini.

Oh iya, saya pernah melihat seorang pedagang di pasar Klithikan –ketika masih di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta– memajang tulisan di atas selembar kardus menawarkan batu merah delima ini dengan harga –biasanya disebut mahar, agar tidak diartikan sebagai jual beli komersil– 1 milyar rupiah.

Eh tunggu, ternyata di sini harganya 10 kali lipat. Wow.


Hello Earth!

17 February 2010 19:24:32 WIB, under category Gak Penting

Birdie

Bukan, saya bukan dari luar angkasa kok.


« Newer Posts Older Posts »