<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Follow me not! &#187; Sejarah Keren</title>
	<atom:link href="http://the.sandalian.com/category/sejarah-keren/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://the.sandalian.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 17:59:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Foto Bledug Kuwu dari Jaman Kumpeni</title>
		<link>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/foto-bledug-kuwu-dari-jaman-kumpeni.html</link>
		<comments>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/foto-bledug-kuwu-dari-jaman-kumpeni.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 18:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Keren]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[bledug kuwu]]></category>
		<category><![CDATA[kumpeni]]></category>
		<category><![CDATA[kuwu]]></category>
		<category><![CDATA[mud volcano]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[voc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://the.sandalian.com/?p=671</guid>
		<description><![CDATA[Dari sebuah link yang diberikan oleh Pengki yang berisi foto Ranu Kumbolo di jaman penjajahan Belanda, saya lalu melakukan pencarian untuk kampung kelahiran saya, Purwodadi. Salah satu hasilnya adalah beberapa foto Bledug Kuwu, sebuah situs mud volcano yang menurut mitos merupakan jalur keluarnya Baru Klinthing (ular raksasa yang mengaku sebagai anaknya Aji Saka) setelah berhasil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari sebuah <a href="http://collectie.tropenmuseum.nl">link </a>yang diberikan oleh <a href="http://log.pengki.web.id">Pengki </a>yang berisi foto Ranu Kumbolo di jaman penjajahan Belanda, saya lalu melakukan pencarian untuk kampung kelahiran saya, Purwodadi.</p>
<p>Salah satu hasilnya adalah beberapa foto <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bledug_Kuwu">Bledug Kuwu</a>, sebuah situs <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mud_volcano">mud volcano</a> yang menurut mitos merupakan jalur keluarnya Baru Klinthing (ular raksasa yang mengaku sebagai anaknya Aji Saka) setelah berhasil membunuh siluman buaya putih di pantai selatan.</p>
<p>Bledug Kuwu sendiri adalah gabungan dua kata, bledug dan Kuwu. Kuwu adalah sebuah kota kecil di sebelah timur Purwodadi. Dari sebuah buku yang saya curi baca di Gramedia (lupa judulnya), konon Kuwu adalah tempat kelahiran Ken Dedes. Entah benar entah salah, saya nggak tahu.</p>
<p>Berikut ini empat foto yang saya temukan di website dari Belanda tersebut.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-672" title="koewoe1" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2011/08/koewoe1.jpg" alt="Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) mengunjungi pabrik garam di Kuwu" width="589" height="422" /></p>
<p>Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) mengunjungi pabrik garam di Kuwu.</p>
<p><span id="more-671"></span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-673" title="koewoe2" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2011/08/koewoe2.jpg" alt="Susunan bambu untuk penguapan air (untuk mendapatkan garam) di sebuah pabrik garam di Kuwu" width="588" height="325" /></p>
<p>Susunan bambu untuk penguapan air (untuk mendapatkan garam) di sebuah pabrik garam di Kuwu.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-674" title="koewoe3" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2011/08/koewoe3.jpg" alt="Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) sedang melihat air yang menyembul dari dalam tanah" width="592" height="342" /></p>
<p>Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) sedang melihat air yang menyembul dari dalam tanah.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-675" title="koewoe4" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2011/08/koewoe4.jpg" alt="Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) di tempat sumber air asin yang memancar di Pertamina-nya kumpeni (NKPM: Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) di Kunduran, perbatasan Purwodadi dan Blora." width="440" height="591" /></p>
<p>Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) di tempat sumber air asin yang memancar di Pertamina-nya kumpeni (NKPM: Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) di Kunduran, perbatasan Purwodadi dan Blora.</p>
<p>Di posting selanjutnya, akan saya upload beberapa foto Bledug Kuwu yang sempat saya ambil gambarnya beberapa tahun yang lalu. Stay tune!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/foto-bledug-kuwu-dari-jaman-kumpeni.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lelaki Penangkap Angin</title>
		<link>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/lelaki-penangkap-angin.html</link>
		<comments>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/lelaki-penangkap-angin.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 17:29:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Keren]]></category>
		<category><![CDATA[Kamkwamba]]></category>
		<category><![CDATA[kincir]]></category>
		<category><![CDATA[malawi]]></category>
		<category><![CDATA[windmill]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://the.sandalian.com/?p=617</guid>
		<description><![CDATA[Namanya William Kamkwamba, remaja dari Malawi yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena keluarganya tidak mampu membayar biaya pendidikan sebesar 80 dolar Amerika per tahun. Sejak saat itu dia sering mengintip ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, hingga akhirnya diusir oleh guru kelas tersebut. Suatu hari &#8211;pada umur 14 tahun&#8211; William menemukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namanya William Kamkwamba, remaja dari Malawi yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena keluarganya tidak mampu membayar biaya pendidikan sebesar 80 dolar Amerika per tahun. Sejak saat itu dia sering mengintip ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, hingga akhirnya diusir oleh guru kelas tersebut.</p>
<p>Suatu hari &#8211;pada umur 14 tahun&#8211; William menemukan buku berjudul &#8220;Using Energy&#8221; di perpustakaan sebuah sekolah dasar yang sering ia kunjungi di desanya. Dengan buku tersebut, William membangun sebuah kincir angin pertamanya tanpa pengetahuan teknis apa-apa. Pembuatan kincir angin memanfaatkan barang-barang yang ia temukan di sekitarnya seperti pipa plastik, sepeda rusak, kipas traktor dan sejumlah kawat. Sedangkan towernya dibangun menggunakan cabang pohon yang disusun sedemikian rupa.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-618" title="windmill" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2011/02/windmill.jpg" alt="windmill" width="500" height="375" /><br />
<span id="more-617"></span><br />
Setelah dua bulan pengerjaan, jadilah sebuah kincir angin yang bisa memberikan penerangan di malam hari sehingga ia tetap bisa membaca buku.  Tetangga-tetangga yang semula sama sekali tidak paham apa yang ia kerjakan, akhirnya mulai memberikan dukungan untuk pembuatan kincir angin keduanya.</p>
<p>Alkisah, penjaga perpustakaan mengetahui hal ini dan kemudian datang ke desanya dengan membawa sejumlah wartawan. Maka jadilah cerita ini menyebar ke seluruh dunia, betapa seorang pemuda putus sekolah dan berasal dari negara yang cakupan listrik hanya 2% dari total luas Malawi mampu membuat sendiri sumber listriknya.</p>
<p>Sangat menarik dan mengharukan. Sebaiknya Anda menonton sendiri <a href="http://missingpiecesvideo.com/kamkwamba/movingwindmillsFINALsubtitle.mov">video dokumenternya (39.5 MB)</a>, ada rasa bahagia yang ikut saya rasakan saat melihat video tersebut. </p>
<p>Mari berbagi kebahagiaan <img src='http://the.sandalian.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><small>Foto di atas diambil dari <a href="http://www.flickr.com/photos/whiteafrican/622366993/">Flickr</a>, dengan lisensi Creative Commons Attribution 2.0 Generic.</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/lelaki-penangkap-angin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
<enclosure url="http://missingpiecesvideo.com/kamkwamba/movingwindmillsFINALsubtitle.mov" length="41372370" type="video/quicktime" />
		</item>
		<item>
		<title>Alat Pemasang Lampu</title>
		<link>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/alat-pemasang-lampu.html</link>
		<comments>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/alat-pemasang-lampu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 19:54:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Keren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://the.sandalian.com/?p=608</guid>
		<description><![CDATA[Ketika mulai pindahan ke rumah kontrakan baru, ternyata di rumah tersebut lampu-lampunya tidak ada. Ada sih, namun hanya beberapa saja. Sedangkan untuk ruang-ruang utama harus membeli lampu neon sendiri. Setelah membeli lampu neon, masalahnya tidak lantas selesai. Karena langit-langit yang cukup tinggi dan tidak ada tangga untuk memasang lampu, maka hal ini jadi kendala tersendiri. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mulai pindahan ke rumah kontrakan baru, ternyata di rumah tersebut lampu-lampunya tidak ada. Ada sih, namun hanya beberapa saja. Sedangkan untuk ruang-ruang utama harus membeli lampu neon sendiri. Setelah membeli lampu neon, masalahnya tidak lantas selesai. Karena langit-langit yang cukup tinggi dan tidak ada tangga untuk memasang lampu, maka hal ini jadi kendala tersendiri.</p>
<p>Niat awalnya ingin beli <a title="tongkat pemasang lampu" href="http://tokoonline88.com/wp-content/uploads/2010/01/pasanglampu.jpg">tongkat pemasang lampu/bohlam</a>, tapi harganya di salah satu toko grosir hampir 100 ribuan. Kalau saya tukang listrik yang sering pasang/copot lampu, harganya murah. Tapi karena hanya akan dipakai sekali saja (atau kali lain kalau ganti lampu) maka harganya menjadi mahal.<br />
<span id="more-608"></span><br />
Otak <abbr title="Do It Yourself">DIY</abbr> saya segera berputar, ini harusnya solusi gampang. Maka sambil membeli lampu saya beli juga minuman dalam botol plastik. Sampai rumah, setelah isi botol saya minum habis, saya lubangi pantat botol plastik tersebut dengan pisau lipat. Lubangnya dikira-kira agar neon bisa masuk, namun jangan terlalu sempit. Kemudian pasang lampu di pantat botol tersebut.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-609" title="pasang lampu di pantat botol" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2011/01/pasang-lampu1.jpg" alt="pasang lampu di pantat botol" width="500" height="375" /></p>
<p>Agar jarak jangkau menjadi lebih jauh/tinggi, pasang ujung botol ke ujung payung hadiah entah dari mana. Jleb, lalu pasang lampu ke tempat lampu dengan mudah dan aman.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-610" title="tancapkan payung ke botol" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2011/01/pasang-lampu2.jpg" alt="tancapkan payung ke botol" width="250" height="334" /> <img class="alignnone size-full wp-image-611" title="pasang lampu ke tempatnya" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2011/01/pasang-lampu3.jpg" alt="pasang lampu ke tempatnya" width="250" height="333" /></p>
<p>Rumah kontrakan pun terang-benderang! \o/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/alat-pemasang-lampu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>You and I</title>
		<link>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/you-and-i.html</link>
		<comments>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/you-and-i.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 04:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Keren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://the.sandalian.com/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Today is our wedding day. Mulai hari ini, aku dan kamu akan selalu bersama. Aku melengkapimu dan kamu menutupi kekuranganku.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Today is our wedding day.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-586" title="wedding" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2010/11/wedding.jpg" alt="You and I" width="550" height="413" /></p>
<p>Mulai hari ini, aku dan <a href="http://blog.perikecil.com">kamu</a> akan selalu bersama. Aku melengkapimu dan kamu menutupi kekuranganku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/you-and-i.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersosialisasi untuk Indonesia</title>
		<link>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/bersosialisasi-untuk-indonesia.html</link>
		<comments>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/bersosialisasi-untuk-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 16:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Keren]]></category>
		<category><![CDATA[pb2010]]></category>
		<category><![CDATA[xlcontest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://the.sandalian.com/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun yang lalu, untuk mengadakan kegiatan kumpul-kumpul bisa dibilang prosesnya ribet. Selain harus menghubungi satu persatu peserta, baik lewat surat, telepon atau didatangi satu persatu, kegiatan paska acara pun tak kalah ribetnya. Seperti misalnya pembagian foto-foto dokumentasi, laporan pertanggungjawaban dan ucapan terima kasih atas kehadiran para peserta. Tapi jaman sudah jauh berubah sejak adanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun yang lalu, untuk mengadakan kegiatan kumpul-kumpul bisa dibilang prosesnya ribet. Selain harus menghubungi satu persatu peserta, baik lewat surat, telepon atau didatangi satu persatu, kegiatan paska acara pun tak kalah ribetnya. Seperti misalnya pembagian foto-foto dokumentasi, laporan pertanggungjawaban dan ucapan terima kasih atas kehadiran para peserta.</p>
<p>Tapi jaman sudah jauh berubah sejak adanya internet. Terutama sejak maraknya website media sosial seperti <a href="http://friendster.com">Friendster</a>, <a href="http://facebook.com">Facebook</a>, <a href="http://twitter.com">Twitter</a> atau website serupa dalam bungkus lokal seperti <a href="http://fupei.com">Fupei</a> dan <a href="http://koprol.com">Koprol</a>.</p>
<p><img style="margin: 0 7px 7px 0;" title="sosial" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2010/10/sosial.jpg" alt="sosial" width="350" height="251" align="left" />Jaman sekarang, untuk menyelenggarakan suatu acara kita tinggal membuat sebuah agenda di Facebook, membuat halaman <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/RSVP_(invitations)">RSVP</a>, update status kegiatan per hari bahkan per detik, juga foto-foto kegiatan yang bisa dengan mudah diupload di galeri foto. Laporan pertanggung jawaban pun tak kalah mudahnya diupload melalui fitur Notes yang ada di website tersebut.</p>
<p>Tak hanya bisa diakses lewat PC atau laptop, siapapun bisa mengakses website tersebut melalui ponsel dengan harga murah sekalipun. Kemajuan ini sungguh luar biasa, dan akan sangat sia-sia jika tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ibarat pembangunan suatu peradaban, jalan raya sudah dibangun dengan luas dan  mudah dilalui.</p>
<p>Sekarang tergantung manusia selaku pengguna teknologi. Akankah teknologi ini menjadi sesuatu yang digunakan untuk hal biasa-biasa saja, ataukah digunakan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa?</p>
<p>Yang menggembirakan adalah adanya pihak-pihak yang mulai menggunakan website media sosial untuk hal-hal kemanusiaan. Mulai gerakan <a href="http://coinachance.com/">Coin a Chance</a>, <a href="http://www.facebook.com/pages/COIN-FOR-PRITA-MULYASARI/204309921986">Coin for Prita</a> dan yang  lainnya.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-573" style="margin: 0 5px 5px 0;" title="like" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2010/10/like.png" alt="" width="123" height="76" align="left" />Dengan media internet, terutama situs jejaring sosial yang bisa dipastikan dibuka oleh kebanyakan pengguna internet setiap harinya, gerakan sosial ini akan semakin membesar dari hari ke hari. Jika kita tidak bisa berpartisipasi dengan uang atau material lainnya, kita cukup mengeklik tombol &#8220;Like&#8221; sebagai bentuk partisipasi.</p>
<p>Dan tanpa kita sadari, ratusan teman (bahkan ribuan) yang ada di dalam daftar pertemanan di website sosial media tersebut akan ikut melihat apa yang kita lakukan dan mengetahui gerakan tersebut. Satu klik saja dan kita telah menyebarkan berita ke ratusan bahkan ribuan orang di sekeliling kita.</p>
<p>Ini potensi yang sangat luar biasa bukan? Bahkan jika kita tidak bisa terlibat langsung dalam suatu gerakan, dukungan berupa satu klik sudah membantu publikasi yang luar biasa.</p>
<p>Tag:  #pb2010 #xlcontest</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/bersosialisasi-untuk-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buah Delima</title>
		<link>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/buah-delima.html</link>
		<comments>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/buah-delima.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 21:12:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Keren]]></category>
		<category><![CDATA[buah delima]]></category>
		<category><![CDATA[delima]]></category>
		<category><![CDATA[opinel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://the.sandalian.com/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[Buah delima adalah salah satu buah kesukaan saya karena waktu kecil dulu pernah punya pohon delima di samping rumah dan selalu excited ketika pohonnya berbuah. Bahkan hingga saat ini saya masih hafal aroma bunga delima pas saya pritili satu persatu kelopak bunganya. Kebetulan kemarin pas lagi jalan-jalan di Carefour bareng Puan Peri, saya lihat ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="margin: 0 7px 5px 0;" title="delima kecil" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2010/10/delimakecil.jpg" alt="delima kecil" width="250" height="188" align="left" />Buah delima adalah salah satu buah kesukaan saya karena waktu kecil dulu pernah punya pohon delima di samping rumah dan selalu excited ketika pohonnya berbuah. Bahkan hingga saat ini saya masih hafal aroma bunga delima pas saya <em>pritili</em> satu persatu kelopak bunganya.</p>
<p>Kebetulan kemarin pas lagi jalan-jalan di Carefour bareng <a href="http://blog.perikecil.com">Puan Peri</a>, saya lihat ada buah delima ini di tempat buah-buahan. Sebijinya antara 5-8 ribu, tergantung ukuran. Akhirnya saya beli satu karena terakhir makan delima mungkin jaman SD dulu. Minum jus delima botolan yang terkenal itu rasanya belum bisa menggantikan kenangan tentang buah delima ini *halah*<br />
<span id="more-557"></span><br />
<img class="alignnone size-full wp-image-558" title="delima" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2010/10/delima.jpg" alt="buah delima dibelah dua" width="500" height="375" /></p>
<p>Sampai rumah, delima saya belah dengan <a href="http://my.opera.com/sandalian/blog/opinel-garden-number-8">pisau</a> yang jadi <abbr title="Every Day Carry">EDC</abbr> saya saat ini. Lha kok ternyata buahnya jelek, yang warna merah pun tidak terasa enak di makan. Sedikit kecewa sih, akhirnya saya pilih-pilih mana yang layak makan dan mana yang enggak.</p>
<p>Ngomong-ngomong, ada yang tahu cara menikmati delima selain diemut-emut ngga? Atau mungkin ada masakan khusus yang menggunakan delima?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/buah-delima.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjual Bambu</title>
		<link>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/penjual-bambu.html</link>
		<comments>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/penjual-bambu.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 22:07:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Keren]]></category>
		<category><![CDATA[bambu]]></category>
		<category><![CDATA[diehard]]></category>
		<category><![CDATA[jual bambu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://the.sandalian.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Ketika pulang kampung kemarin, saya sampai di kota kelahiran saya dan turun dari bus sekitar jam 5 pagi kurang sedikit. Dari pemberhentian bus masih beberapa kilometer lagi untuk mencapai rumah saya. Karena masih cukup pagi, saya tidak ingin membangunkan kakak saya untuk sekedar menjemput. Toh saya nanti bisa naik ojek di jalan masuk ke desa tempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika <a href="http://the.sandalian.com/gak-penting/pada-sebuah-bus-dinihari.html">pulang kampung</a> kemarin, saya sampai di kota kelahiran saya dan turun dari bus sekitar jam 5 pagi kurang sedikit. Dari pemberhentian bus masih beberapa kilometer lagi untuk mencapai rumah saya. Karena masih cukup pagi, saya tidak ingin membangunkan kakak saya untuk sekedar menjemput. Toh saya nanti bisa naik ojek di jalan masuk ke desa tempat orang tua saya tinggal.</p>
<p>Setelah berjalan kaki sekitar setengah jam, saya sampai di jalan masuk menuju <a href="http://www.fallingrain.com/world/ID/07/Ngrebo.html">kampung </a>saya. Ternyata pangkalan ojek masih sepi, dan tidak ada tanda-tanda kendaraan yang lewat. Akhirnya saya putuskan untuk berjalan kaki saja, toh hanya beberapa kilometer jaraknya.</p>
<p>Sambil berjalan kaki dan menikmati udara pagi yang sangat segar, saya sedikit bernostalgia dengan jalan yang saya lewati. Dahulu kala, ini jalan yang saya lewati sehari-hari untuk berangkat dan pulang sekolah. Sekarang jalannya di-cor beton karena aspal tidak mampu menahan pergerakan tanah yang labil.<br />
<span id="more-550"></span><br />
Lalu lewatlah seorang bapak-bapak dengan becak dan seikat batang pohon bambu yang ditaruh di atasnya. Bambu tersebut akan dibawa ke pasar bambu yang letaknya tidak jauh dari pasar kota.  Saya sempatkan untuk mengambil gambarnya meskipun hasilnya kurang sempurna, maklum matahari belum terbit dan lampu kilat di kamera tidak seberapa kekuatannya.</p>
<p><img class="size-full wp-image-551" title="penjual bambu" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2010/06/penjualbambu.jpg" alt="penjual bambu" width="500" height="375" /></p>
<p>Saya jadi ingat jaman kecil dahulu, mulai jam 2-3 pagi jalan di depan rumah sudah ramai dengan suara orang yang lewat di situ. Mereka adalah penjual sayuran, penjual ayam, dan penjual apa saja termasuk penjual bambu seperti pada foto di atas. Bedanya adalah jaman dahulu bambunya dipikul/dipanggul di atas pundak.</p>
<p>Satu batang pohon bambu dipikul dari rumah menuju pasar bambu, jaraknya kurang lebih 10 kilometer (banyak yang lebih jauh lagi). Berangkat jam 2-3 pagi dan sampai pasar bambu sebelum terang. Entah berapa uang yang didapatkan dengan memikul beban seberat itu, dengan jarak 10 kilometeran dan pengorbanan bangun pagi-pagi buta. Untung sekarang ada becak. Selain tidak perlu memikul, jumlah bambu yang bisa diangkut juga semakin banyak.</p>
<p>Selain ketemu penjual bambu tersebut, saya juga nemu buah yang <a href="http://sandalian.com/daily/wild-fruit-on-the-roadside.html">nampaknya enak tapi ternyata tidak</a>, di pinggir jalan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/penjual-bambu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadiah Ulang Tahun</title>
		<link>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/hadiah-ulang-tahun.html</link>
		<comments>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/hadiah-ulang-tahun.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 00:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Keren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://the.sandalian.com/?p=539</guid>
		<description><![CDATA[Kalau ditanya apa hadiah ulang tahun paling berkesan tahun ini, jawabannya sederhana. Yaitu munculnya kampung saya di Google Maps dengan tampilan yang jauh lebih jelas dari sebelumnya View Larger Map Semaleman bernostalgia tentang sungai, kuburan, sawah dan tempat-tempat lainnya yang sering saya jadikan tujuan bermain waktu kecil, atau sekedar berburu burung menggunakan ketapel. Sadis? Tenang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau ditanya apa hadiah ulang tahun paling berkesan tahun ini, jawabannya sederhana. Yaitu munculnya kampung saya di Google Maps dengan tampilan yang jauh lebih jelas dari sebelumnya <img src='http://the.sandalian.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><iframe width="550" height="350" frameborder="0" scrolling="no" marginheight="0" marginwidth="0" src="http://maps.google.com/maps?q=-7.099658,110.948009&amp;num=1&amp;t=h&amp;sll=37.0625,-95.677068&amp;sspn=23.875,57.630033&amp;ie=UTF8&amp;ll=-7.097656,110.948653&amp;spn=0.012435,0.021136&amp;z=14&amp;iwloc=A&amp;output=embed"></iframe><br /><small><a href="http://maps.google.com/maps?q=-7.099658,110.948009&amp;num=1&amp;t=h&amp;sll=37.0625,-95.677068&amp;sspn=23.875,57.630033&amp;ie=UTF8&amp;ll=-7.097656,110.948653&amp;spn=0.012435,0.021136&amp;z=14&amp;iwloc=A&amp;source=embed" style="color:#0000FF;text-align:left">View Larger Map</a></small></p>
<p>Semaleman bernostalgia tentang sungai, kuburan, sawah dan tempat-tempat lainnya yang sering saya jadikan tujuan bermain waktu kecil, atau sekedar berburu burung menggunakan ketapel. Sadis? Tenang saja, seumur-umur peluru ketapel saya baru satu kali saja mengenai burung. Itupun burungnya terbang lagi!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/hadiah-ulang-tahun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Sukuh di Purwodadi?</title>
		<link>http://the.sandalian.com/to-think-of/candi-sukuh-di-purwodadi.html</link>
		<comments>http://the.sandalian.com/to-think-of/candi-sukuh-di-purwodadi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 20:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Keren]]></category>
		<category><![CDATA[To Think Of]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[candi sukuh]]></category>
		<category><![CDATA[grobogan]]></category>
		<category><![CDATA[purwodadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://the.sandalian.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Saya tadi sedang kelayapan di dunia antah-berantah, kemudian menemukan tautan dari sebuah website dari Belanda yang menyimpan banyak foto-foto dari jaman kolonialisme. Iseng saya masukkan kata kunci &#8220;grobogan&#8221;, nama kabupaten tempat orang tua saya tinggal, dan kagetlah saya karena ada 28 foto yang muncul di halaman tersebut. Dan yang paling bikin saya penasaran adalah munculnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tadi sedang kelayapan di dunia antah-berantah, kemudian menemukan tautan dari sebuah <a href="http://kitlv.pictura-dp.nl/">website dari Belanda</a> yang menyimpan banyak foto-foto dari jaman kolonialisme.</p>
<p>Iseng saya masukkan kata kunci &#8220;grobogan&#8221;, nama kabupaten tempat orang tua saya tinggal, dan kagetlah saya karena ada 28 foto yang muncul <a href="http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&amp;Itemid=28&amp;task=result">di halaman tersebut</a>. Dan yang paling bikin saya penasaran adalah munculnya foto sebuah candi dengan keterangan &#8220;<em>Tempel te Soekoeh bij Poerwodadi</em>&#8221; atau &#8220;Candi Sukuh di Purwodadi&#8221;.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-537" title="candisukuh" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2010/06/candisukuh.jpg" alt="Candi Sukuh" width="603" height="437" /></p>
<p>Saya jadi penasaran, jangan-jangan orang Belanda ini salah dalam memasukkan kategori foto atau mungkin dahulu kala negatif fotonya tertukar dengan dokumentasi perjalanannya ke <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sukuh">Tawangmangu</a>? Atau bisa jadi ada cerita berbeda mengenai candi ini yang tidak saya ketahui.</p>
<p>Saya  telah meninggalkan komentar di halaman tempat foto tersebut ditampilkan, semoga ada balasan.</p>
<p><small><strong>Note: </strong>gambar di atas merupakan screenshot layar dari tampilan <a href="http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&amp;Itemid=28&amp;task=topview&amp;CollectionID=1&amp;RecordID=86831&amp;PhotoID=KLV001122332">halaman ini</a>, foto Candi Sukuh pada tahun 1930.</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://the.sandalian.com/to-think-of/candi-sukuh-di-purwodadi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Global Positioning System</title>
		<link>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/global-positioning-system.html</link>
		<comments>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/global-positioning-system.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 20:16:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Keren]]></category>
		<category><![CDATA[google maps]]></category>
		<category><![CDATA[gps]]></category>
		<category><![CDATA[igotu]]></category>
		<category><![CDATA[lbs]]></category>
		<category><![CDATA[location based service]]></category>
		<category><![CDATA[trekbuddy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://the.sandalian.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Saya termasuk manusia dengan sistem navigasi jelek. Meskipun telah melewati suatu jalur berkali-kali &#8211;apalagi kalau nebeng atau mbonceng&#8211; tidak akan menjamin bahwa saya ingat jalan tersebut, terlebih lagi jika di tempat-tempat baru. Karena itu saya sangat menggemari teknologi positioning karena teknologi tersebut sangat membantu saya. Asyiknya, saya tidak butuh perangkat GPS mahal-mahal untuk memanfaatkan teknologi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="margin: 0 7px 5px 0;" title="igotu" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2010/06/igotu.jpg" alt="i-GotU GPS Logger &amp; SE M600i" width="339" height="258" align="left" />Saya termasuk manusia dengan sistem navigasi jelek. Meskipun telah melewati suatu jalur berkali-kali &#8211;apalagi kalau nebeng atau mbonceng&#8211; tidak akan menjamin bahwa saya ingat jalan tersebut, terlebih lagi jika di tempat-tempat baru. Karena itu saya sangat menggemari teknologi <em>positioning</em> karena teknologi tersebut sangat membantu saya.</p>
<p>Asyiknya, saya tidak butuh perangkat GPS mahal-mahal untuk memanfaatkan teknologi <em>positioning</em> tersebut. Saya cukup menggunakan ponsel yang diinstal Google Maps di dalamnya dan saya <em>ready to go</em>. Bahkan ponsel tidak perlu ada modul GPS di dalamnya, bisa segala jenis ponsel selama bisa diinstal Google Maps karena Google Maps menggunakan teknologi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Location-based_service">Location Based Service</a>.</p>
<p>Kemudian beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan <a href="http://sandalian.com/reviews/my-first-gps-device-igotu-gps-logger.html">modul GPS merk i-GotU</a> dari <a href="http://mydigitallife.info/">My Digital Life</a> sebagai hadiah kuis. Perangkat ini hanya berfungsi sebagai data logger dan modul GPS, jadi sama sekali tidak ada layar untuk melihat-lihat sesuatu. Tombolnya saja cuma satu, bulet gede di tengah <img src='http://the.sandalian.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
<span id="more-528"></span><br />
Modul i-GotU ini bisa berfungsi sendiri sebagai data logger (mencatat track yang kita lalui di memory internal), disambungkan dengan PC/laptop menggunakan software navigasi semacam Garmin, atau menggunakan ponsel.</p>
<p>Kali ini saya coba menggunakan <a href="http://www.trekbuddy.net/">TrekBuddy</a> di ponsel. TrekBuddy adalah aplikasi J2ME super keren yang dibuat oleh programmer yang tidak mau diketahui nama aslinya. Sayangnya TrekBuddy ini masih kosongan, jadi saya harus mendownload peta suatu kota dari Google Maps (menggunakan web <a href="http://gm2tb.awokenmind.de/">gm2tb</a>) terlebih dahulu lalu memasukannya ke dalam memory ponsel. Baru setelah itu bisa digunakan untuk <em>jengjeng</em>.</p>
<p>Berikut ini perbandingan hasil menggunakan modul GPS dan TrekBuddy (kiri) versus Google Maps (kanan):</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-530" title="trekbuddy" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2010/06/trekbuddy.png" alt="TrekBuddy" width="240" height="320" /> <img class="alignnone size-full wp-image-531" title="gmaps" src="http://the.sandalian.com/wp-content/uploads/2010/06/gmaps.png" alt="Google Maps" width="240" height="320" /></p>
<p>TrekBuddy memang menampilkan lokasi yang lebih presisi dan tidak membutuhkan pulsa karena peta didownload dari PC/laptop lalu disimpan di memori ponsel, tetapi menurut saya kurang praktis karena harus mendownload peta baru untuk lokasi baru. Belum lagi sinkronisasi ponsel dengan perangkat GPS yang butuh waktu beberapa saat. Memang tidak sampai 5 menit, tapi agak merepotkan.</p>
<p>Berbeda dengan Google Maps, meskipun akurasinya dalam rentang ratusan meter dan membutuhkan pulsa untuk menampilkan peta secara langsung dari server Google, namun sangat praktis dan mudah digunakan. Bahkan saya biasa menghitung jarak suatu kota ke kota lain dan mendapatkan saran jalur yang harus ditempuh. So far so good!</p>
<p>Sayang sekali ponsel saya lumayan jadul, jadi hanya bisa menggunakan fitur-fitur dasar dari Google Maps/Latitude. Ada yang mau nyumbang ponsel? Nanti saya review di blog ini deh <img src='http://the.sandalian.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  <img src='http://the.sandalian.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://the.sandalian.com/sejarah-keren/global-positioning-system.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

