Saudara-saudari sekalian, kali ini saya akan mencoba menulis tentang bahasa-bahasa dan aksara-aksara di masa lalu, yang konon kabarnya merupakan bahasa/aksara para dewa. Perlu saya tekankan bahwa semua ini berdasar penelitian ngawuriah saya.
Yang pertama adalah bahasa yang digunakan di Mesir kuno. Konon kabarnya tulisan hieroglip itu hanya mengenal huruf konsonan saja. Yang membuat rentetan kata-kata tersebut bisa dipahami adalah simbol yang mengikutinya.
Misalkan rangkaian huruf KCNG, jika di belakangnya terdapat gambar tumbuhan maka akan dibaca KACANG sedangkan jika diikuti dengan gambar hewan maka akan menjadi KUCING. (more…)

Tokoh pada gambar di atas, bernama Borneo. Bukan nama asli pastinya, namun dia pernah menunjukkan kartu nama ke saya. Kartu nama itu, entah dia nemu dari mana. Kemudian seluruh tulisan yang ada dia coret, dan di halaman sebaliknya –yang kosong itu– dia tulisi “Borneo, Rumah: Kalimantan”, dan dengan bangganya mengaku bahwa itu kartu nama dia, tentu saja saya hanya tersenyum.
Kemudian dia minta dibeliin nasi di angkringan tugu. Dan saya tak mampu menolaknya, saya belikan dua bungkus dan kemudian dia pergi.
Bagi yang sering nongkrong di angkringan tugu 1-2 tahun yang lalu, pasti mengenal sosok ini. Kadang dia mengamen menggunakan seruling. Kalau belum dikasih recehan atau ditolak, dia akan melanjutkan meniup alunan seruling maut, asal tiup dan yang penting bunyi.
Kadang kalau sudah jengkel, dia akan meniup seruling dengan hidungnya. Dan entah bagaimana caranya, bunyinya juga cukup nyaring
Setahunan terakhir, saya tak lagi pernah melihat dia. Entah pergi, entah dibersihkan oleh Pemkot.
Joko Tarub, atau di tempat saya lebih dikenal sebagai Ki Ageng Tarub terkenal karena riwayat dia mencuri/menyembunyikan pakaian bidadari sehingga beliau berhasil memperistri bidadari tersebut.
Kemudian Ki Ageng Selo yang terkenal karena kesaktiannya sehingga mampu menangkap petir dan mengikat petir tersebut di dahan pohon Gandrik ternyata juga mempunyai sisi cerita menarik yang berkaitan dengan perempuan.
Yaitu bahwa dia menyukai istri dari seorang dalang yang bernama Ki Bicak, yang parasnya cantik rupawan. Kemudian demi mendapatkan istri Ki Bicak tersebut, akhirnya Ki Ageng Selo membunuh Ki Bicak dan memperistri Nyi Bicak.
Duh, pendahulu-pendahulu saya saja seperti itu, lalu bagaimana dengan saya yang menjadi penerusnya ini?
* Bengong sambil mendengarkan lagu Julio Iglesias, To All The Girls I’ve Loved Before *

Oleh-oleh dari suatu pameran buku di JEC beberapa minggu yang lalu. Karakter jagoan dari Indonesia yang digambar ala karakter 16 bit (atau 8 bit?). Dari kiri ke kanan: Gundala Putra Petir, Godam dan Si Buta Dari Goa Hantu beserta Kliwon (nama monyetnya).
Juga saya posting di halaman My Opera, lalu ada watermark di gambar karena saya menggunakan Pixel Image Editor versi demo. Gak papa, malah watermarknya membuat gambar di atas lebih nyeni
Bukan, bukan tentang JAV atau aktivitas sejenis. Melainkan pemanfaatan lahan yang ada untuk bertanam sayuran atau tumbuhan lain yang bisa dimakan demi menghemat pengeluaran.

Apakah pekarangan, lorong sempit di belakang rumah, balkon dan atau atap rumah/kost Anda sudah dimanfaatkan untuk bertanam sayuran atau apa saja? Asal jangan bertanam marijuana di situ
(more…)
Baru saja saya lihat di televisi tentang penggusuran rumah di Tuban, Jawa Timur dan ditampilkan reaksi tergusur yang mengamuk dan berteriak-teriak sekencangnya karena tidak terima rumahnya digusur:
“Aku ora terima omahku digusur! Iki lho sing arep mbok adepi! Aku, putune Mbah ****“
Yang kurang lebih artinya “Saya tidak terima rumah saya digusur! Ini lho orang yang akan Anda hadapi! Saya, cucunya Mbah ***” (maaf saya lupa nama Mbah yang disebutkan).
Kemudian saya teringat fenomena yang hampir sama di dekat tanah kelahiran saya, tepatnya di Desa Selo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (more…)
Jaman masih duduk di bangku SMP dulu, saya sering menemani Pandu nyegat angkot yang biasa dinaikinya untuk pulang ke rumah.
Syahdan, suatu hari ketika kami menunggu angkot lewat, ada seekor anjing yang berjalan dan mulai mengendus-endus pohon dan mengelilinginya. Dari gelagatnya tampak bahwa anjing ini berniat pipis. Pandu berkata kepada saya bahwa konon ada cara untuk mencegah anjing itu pipis. Karena sama-sama tak percaya, lalu kami berdua membuktikannya. (more…)
Bukan tulisan tentang emansipasi dalam arti sebenarnya melainkan masih kelanjutan Road Show di Gunung Lawu kemarin. Di puncak Argo Dumilah itu kami merayakan datangnya sinar matahari sekaligus sarapan dengan menu Pisang Bakar/Panggang Keju.

Setelah pisang dikupas dan dibelah kemudian dipanggang beberapa saat hingga pisang berwarna kecoklatan..

Setelah pisang berwarna kecokelatan, segera angkat, potong-potong, siram dengan susu dan ditaburi parutan keju. Dan jadilah mahakarya itu..

Mari makaaan!!

Setelah kemarin saya menulis tentang Raspberry yang biasa saya temui di gunung-gunung yang pernah saya singgahi, kali ini saya akan bercerita tentang jenis berry lain yang saya temukan ketika jalan-jalan di Gunung Lawu tanggal 12-13 April kemarin. Di Gunung Lawu juga terdapat banyak raspberry namun kali ini saya ingin bercerita tentang berry lainnya saja. Maaf jika ukuran gambar terlalu besar, saya sudah berusaha mengecilkannya lho..
Berry jenis ini hanya saya temukan di antara Pos 1 dan Pos 2 di jalur pendakian Cemoro Sewu (Jawa Timur), mungkin juga ada di tempat lain yang saya tidak tahu. Saya ga tau ini jenis berry apa, tapi berry yang satu ini rasanya kurang begitu berair dan hanya terasa kecut/masam di dagingnya. Tidak ada cairan yang menyegarkan rongga mulut ketika di makan dan ukurannya bisa empat atau lima kali lipat ukuran buah raspberry dan berbentuk seperti strawberry.

Karena ukurannya cukup besar dan tidak begitu berair, saya rasa buah ini akan cukup membuat kita kenyang tanpa harus kembung. Tentu saja dengan catatan bahwa perut Anda tidak sensitif dan mampu menerima segala jenis makanan.

Dari empat gunung yang pernah saya singgahi (Merbabu, Lawu, Sindoro dan Sumbing) saya hanya menemukan jenis berry ini di Gunung Lawu. Maaf tangan saya di foto atas terlihat kotor, ga pake sarung tangan sih

Saya paling bahagia jika menemukan “ladang berry” ketika siang hari, karena saya bisa panen sepuasnya. Foto di atas adalah gambar “ladang berry” dan Ajeng yang sedang memetik berry langsung dari pohon kemudian langsung disantap. Sesekali kami juga gigit langsung dari pohonnya ha.ha.
Dalam salah satu terbitan sebuah media, seorang –yang entah darimana asalnya sehingga bisa disebut– pakar multimedia menyamakan bloger (atau secara umum, blogger) dengan hacker. Tentu saja hal ini adalah suatu kehormatan bagi saya sebagai seorang bloger, karena sebenarnya untuk mendapatkan gelar –atau menyamai– hacker membutuhkan proses yang cukup panjang. Dan kemarin, pakar
itu menyebut kaum bloger setara dengan hacker.
Lalu menanggapi rencana pemberlakuan UU ITE yang dikhawatirkan bakal menghambat kebebasan berekspresi, saya beranggapan bahwa kita boleh meminjam Manifesto Hacker, sebuah tulisan oleh seseorang yang menggunakan nickname The Mentor dalam sebuah majalah online Phrack terbitan awal.
Maka saya akan mencomot paragraf terakhir, yang saya anggap paling menggetarkan, dan merubahnya menjadi sebagai berikut:
I am a hacker blogger, and this is my manifesto. You may stop this individual, but you can’t stop us all… after all, we’re all alike.