Baru saja saya lihat di televisi tentang penggusuran rumah di Tuban, Jawa Timur dan ditampilkan reaksi tergusur yang mengamuk dan berteriak-teriak sekencangnya karena tidak terima rumahnya digusur:
“Aku ora terima omahku digusur! Iki lho sing arep mbok adepi! Aku, putune Mbah ****“
Yang kurang lebih artinya “Saya tidak terima rumah saya digusur! Ini lho orang yang akan Anda hadapi! Saya, cucunya Mbah ***” (maaf saya lupa nama Mbah yang disebutkan).
Kemudian saya teringat fenomena yang hampir sama di dekat tanah kelahiran saya, tepatnya di Desa Selo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (more…)
Jaman masih duduk di bangku SMP dulu, saya sering menemani Pandu nyegat angkot yang biasa dinaikinya untuk pulang ke rumah.
Syahdan, suatu hari ketika kami menunggu angkot lewat, ada seekor anjing yang berjalan dan mulai mengendus-endus pohon dan mengelilinginya. Dari gelagatnya tampak bahwa anjing ini berniat pipis. Pandu berkata kepada saya bahwa konon ada cara untuk mencegah anjing itu pipis. Karena sama-sama tak percaya, lalu kami berdua membuktikannya. (more…)
Bukan tulisan tentang emansipasi dalam arti sebenarnya melainkan masih kelanjutan Road Show di Gunung Lawu kemarin. Di puncak Argo Dumilah itu kami merayakan datangnya sinar matahari sekaligus sarapan dengan menu Pisang Bakar/Panggang Keju.

Setelah pisang dikupas dan dibelah kemudian dipanggang beberapa saat hingga pisang berwarna kecoklatan..

Setelah pisang berwarna kecokelatan, segera angkat, potong-potong, siram dengan susu dan ditaburi parutan keju. Dan jadilah mahakarya itu..

Mari makaaan!!

Setelah kemarin saya menulis tentang Raspberry yang biasa saya temui di gunung-gunung yang pernah saya singgahi, kali ini saya akan bercerita tentang jenis berry lain yang saya temukan ketika jalan-jalan di Gunung Lawu tanggal 12-13 April kemarin. Di Gunung Lawu juga terdapat banyak raspberry namun kali ini saya ingin bercerita tentang berry lainnya saja. Maaf jika ukuran gambar terlalu besar, saya sudah berusaha mengecilkannya lho..
Berry jenis ini hanya saya temukan di antara Pos 1 dan Pos 2 di jalur pendakian Cemoro Sewu (Jawa Timur), mungkin juga ada di tempat lain yang saya tidak tahu. Saya ga tau ini jenis berry apa, tapi berry yang satu ini rasanya kurang begitu berair dan hanya terasa kecut/masam di dagingnya. Tidak ada cairan yang menyegarkan rongga mulut ketika di makan dan ukurannya bisa empat atau lima kali lipat ukuran buah raspberry dan berbentuk seperti strawberry.

Karena ukurannya cukup besar dan tidak begitu berair, saya rasa buah ini akan cukup membuat kita kenyang tanpa harus kembung. Tentu saja dengan catatan bahwa perut Anda tidak sensitif dan mampu menerima segala jenis makanan.

Dari empat gunung yang pernah saya singgahi (Merbabu, Lawu, Sindoro dan Sumbing) saya hanya menemukan jenis berry ini di Gunung Lawu. Maaf tangan saya di foto atas terlihat kotor, ga pake sarung tangan sih

Saya paling bahagia jika menemukan “ladang berry” ketika siang hari, karena saya bisa panen sepuasnya. Foto di atas adalah gambar “ladang berry” dan Ajeng yang sedang memetik berry langsung dari pohon kemudian langsung disantap. Sesekali kami juga gigit langsung dari pohonnya ha.ha.
Dalam salah satu terbitan sebuah media, seorang –yang entah darimana asalnya sehingga bisa disebut– pakar multimedia menyamakan bloger (atau secara umum, blogger) dengan hacker. Tentu saja hal ini adalah suatu kehormatan bagi saya sebagai seorang bloger, karena sebenarnya untuk mendapatkan gelar –atau menyamai– hacker membutuhkan proses yang cukup panjang. Dan kemarin, pakar
itu menyebut kaum bloger setara dengan hacker.
Lalu menanggapi rencana pemberlakuan UU ITE yang dikhawatirkan bakal menghambat kebebasan berekspresi, saya beranggapan bahwa kita boleh meminjam Manifesto Hacker, sebuah tulisan oleh seseorang yang menggunakan nickname The Mentor dalam sebuah majalah online Phrack terbitan awal.
Maka saya akan mencomot paragraf terakhir, yang saya anggap paling menggetarkan, dan merubahnya menjadi sebagai berikut:
I am a hacker blogger, and this is my manifesto. You may stop this individual, but you can’t stop us all… after all, we’re all alike.

Setiap jalan-jalan di gunung, saya selalu menyempatkan diri tengok kanan-kiri untuk melihat jika ada buah raspberry yang ranum dan siap dimakan. Selama ini yang saya lihat buahnya kecil-kecil, paling besar cuma seukuran kelereng. Rasanya kecut-kecut manis, menyegarkan tenggorokan.
Hati-hati saat memetik buahnya karena batang pohon raspberry ini berduri tajam. Kadang ada yang warnanya kehitaman jika sudah tua dan ranum, namun ada juga yang merah semakin menyala. Kemungkinan memang ada beberapa varian.
Jika kita bagi jarak tempuh perjalanan dari bawah menuju puncak gunung menjadi 4 (empat) bagian, maka populasi raspberry ini biasanya berada di seperempat bagian yang pertama dan kedua. Sayangnya di Merbabu kemarin saya hanya menjumpai pohon tanpa buah. Entah karena tidak musim atau karena sudah dipetik oleh pendaki lain.
Untungnya ketika turun gunung kami melalui jalur yang angker dan jarang dilewati pendaki. Sehingga saya menemukan satu pohon yang buahnya ranum-ranum dan menggoda untuk dimakan.
Ah saya jadi ingat dahulu saya pernah memanfaatkan buah ini untuk memulai percakapan dengan seorang cewe yang tidak saya kenal sebelumnya, di Gunung Merbabu juga.
Note: gambar saya ambil dari internet karena kemarin tidak sempat motret pas di gunung.
Pada suatu pameran kebudayaan di JEC saya menuju ke anjungan Propinsi Papua. Selain melihat-lihat desain primitif dan hasil kerajinan tangan yang menarik, saya sempat ngobrol dengan bapak penjaga anjungan tersebut. Beliau bercerita tentang keindahan Papua dan kekayaan yang terkandung di dalamnya.
Tak hanya bercerita, beliau juga mengeluarkan botol kecil dari plastik berdiameter 2 cm-an dari dalam dompetnya. Dibuka tutupnya dan isinya dituangkan ke atas telapak tangannya, buliran-buliran emas alam yang ada di dalam botolpun bertebaran di telapak tangan beliau.
Butiran paling besar berukuran sebiji kacang ijo, sementara yang paling kecil berukuran… Itu, seukuran upil yang paling besar yang bisa Anda dapatkan dari hidung Anda, bentuknya juga masih ga jelas gitu. Ajaibnya, semua itu –kata bapak itu– bisa didapatkan hanya dengan masuk hutan dan ceker-ceker tanah saja!
Saya shock.. Ceker-ceker tanah bisa dapet emas, gimana kalau nggali?? Kalau saya ceker-ceker tanah di emperan, paling banter cuma dapet kotoran kucing yang ketimbun pasir T_T
Lalu beliau melanjutkan cerita tentang seorang penduduk Papua yang masuk ke hutan bawa ember selama dua minggu dan begitu keluar ember itu sudah penuh dengan emas. Kemudian sampai kota ember itu dibawa masuk ke dealer mobil dan dia keluar dengan mobil terbaru, tanpa ember. Wow!
Betul-betul tanah surga Nusantara ini. Jika di ujung sana banyak emas berserakan di dalam tanah, maka di tanah Jawa juga banyak pusaka-pusaka kuno berserakan di dalam tanah yang menunggu pemiliknya datang menjemput he.he. Lalu, adakah yang bersedia memberi saya keris? Secara saya dari dulu pengen punya keris ha.ha.
Eh iya, foto di atas ngambil dari Wikipedia. Bentuk asli emas yang ditunjukkan ke saya waktu itu nggak seperti gambar di atas. Tapi bener-bener kayak upil kering dari hidung, dengan berbagai ukuran.
Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa bangsa kita mungkin adalah bangsa yang cukup tua umurnya, telah ada sejak jaman Atlantis atau di jaman Nabi Nuh. Bahkan ada sebuah studi yang menghasilkan kesimpulan bahwa Adam dan Hawa pertama kali ketemu di bumi adalah di Tanah Jawa.
Maaf, saya tidak sedang menulis tentang Pulau Jawa yang kecil ini, melainkan Jawa di masa lalu. Di mana Sumatera dan Kalimantan serta pulau-pulau kecil lainnya masih menjadi satu kesatuan.
Kenapa saya beranggapan bahwa Bangsa Jawa telah ada sejak dulu kala? Tak lain dan tak bukan adalah karena kekayaan kosakata yang dimilikinya.
Sekedar contoh, kita ambil yang sepele yaitu untuk bau
. Untuk menyebut suatu bau, semua begitu terdefinisi dan terklasifikasi. Seperti: mambu, badeg, kecut, penguk, sengak, prengus, tengik dan lainnya.
Kita ambil contoh lain, yaitu untuk menunjukkan lokasi. Berikut ini penyebutan suatu lokasi secara berurutan, dimulai dari jarak yang paling dekat ke jarak yang paling jauh: ning kene (di sini), ning kono (Di sana, seperti huruf o dalam perangko), ning kono (Di sana, sedikit lebih jauh. Seperti huruf o dalam kata balkon), ning kuono (di sanaaaaa, lebih jauh lagi. o seperti dalam kata balkon)
Lalu contoh lain lagi, yang paling menarik. Kita sangat kaya akan pisuhan! Dari Wiki CahAndong saja tertulis begitu banyak pisuhan. Belum lagi pisuhan-pisuhan kasar lainnya yang tidak tertulis, dan sepertinya akan terlalu kasar untuk ditulis.
Sedikit saya bahas soal kata “asu” yang artinya anjing. Kata tersebut mempunyai banyak varian, misalnya: Asu, asem, aseng, wasyu, huwasyu. Itu baru perbedaan secara tertulis. Bagi ahli misuh, kata “asu” sendiri akan terdengar berlainan kapasitasnya tergantung intonasi pengucapan.
Coba bandingkan dengan Bahasa Inggris, berapa banyak pisuhan yang mereka punya?
Dengan khasanah kata-kata itu, terutama varian yang banyak hanya untuk satu maksud (seperti kata mambu, badeg, kecut, penguk, sengak, prengus, tengik hanya untuk sebuah bau) rasanya sangat mustahil jika Bangsa Jawa ini adalah bangsa yang baru.
Proses terbentuknya kata mambu, badeg, kecut, penguk, sengak, prengus, tengik dll pastilah berasal dari perjalanan sejarah yang tidak pendek.
Nah, dengan kekayaan dan sejarah sepanjang itu masihkah kita harus takut ke negara yang hanya punya jagoan bernama Rambo?
Kemarin, kabel bawah laut putus lagi..
“Dua buah kabel telekomunikasi di bawah laut pada hari Selasa kemarin (29/1) dilaporkan putus. Salah satu kabel telekomunikasi yang putus tersebut dilaporkan terletak di dekat Alexandria, Mesir. Sedangkan satu kabel bawah laut yang lain terletak di lepas pantai Marseille, Perancis. Kedua buah kabel bawah laut ini dilaporkan putus dalam waktu hampir bersamaan, hanya berselang sekitar satu jam antar putusnya kabel yang satu dengan yang lain.”
Dan akhirnya ketemu penyebab kenapa kabel bawah laut itu bisa putus..

Kabel itu putus keinjek godzilla!

Sekitar dua-tiga hari ini, saya membaca beberapa blog melalui RSS reader saya (bawaan browser Opera) dan menemui beberapa entry tentang 100 Top Indonesian Blogs, antara lain di blognya Pak Ong dan blognya Pak Budi Rahardjo. Tapi abis baca ya lewat gitu aja, nggak tertarik untuk melihat lebih jauh lagi siapa yang nongol di 100 daftar blog tersebut.
Hingga pagi buta ini, Kang Anto disela-sela kesibukannya flirting chatting dengan seorang gadis manis yang pernah saya bahas di blog ini, memberi saya link yang memuat daftar 100 blog top di Indonesia. Dan ajaibly, ada blog ini (iya, the.sandalian.com yang desainnya acakadut nggak keruan ini) di daftar tersebut!

Berada di posisi ke 66 dan tanpa skrinsyut. Disebutkan mempunyai PageRank 4, 7.091 link di Yahoo!, 6 subscriber di bloglines, ranking 10.000.000 di blogrank-nya Technorati, 920.845 Alexa traffic dan skor total 18.9. Jangan tanya saya sual nomer-nomer itu, baiknya Anda cek sendiri di situs-situs yang bersangkutan.
Lalu saya tekan tombol . (titik) di Opera untuk melakukan pencarian teks dan mencari beberapa blog yang saya tahu dan cukup populer, bahkan bisa disebut sebagai seleb blog. Lha kok malah ndak ada? Lalu Kang Anto hanya menjawab: Emang harus ada?
Ah, silahkan dibaca sendiri daftar 100 blog tersebut. Di bagian bawah ada keterangan yang mungkin Anda butuhkan. Saya mo lanjut-lanjut ngetik dulu he.he.