Naik Gunung Lawu melalui jalur Cemoro Sewu, sampai di puncak Argo Dumilah kemudian turun melalui jalur Cemoro Kandang..
Tak berapa lama, sampailah pada tempat paling indah di jalur Cemoro Kandang, sebuah pos peristirahatan yang bernama Cakra Surya (Cokro Suryo). (more…)
Selama ini saya merasa tidak pernah mewakilkan permasalahan saya kepada anggota DPR maupun mahasiswa yang demo di jalanan, namun selalu saja mereka bawa-bawa nama saya, dalam cakupan rakyat Indonesia. Selalu saja mereka berteriak “atas nama seluruh rakyat Indonesia”. Rakyat Indonesia dengkulmu njeplak!
Ah lupakan bapak-bapak tua yang tinggal di gedung dewan itu, no hope for them. Tapi soal mahasiswa yang demo, itu yang memprihatinkan. Udah bawa-bawa nama rakyat Indonesia, misuh-misuhi polisi, ngelempari polisi dengan batu dan botol berbensin-bersumbu lalu merusak apapun yang mereka temui. Bodohnya.
Seandainya otak mereka berada di dengkul sekalipun, bukankah mereka punya dua dengkul dan itu pasti lebih baik daripada satu dengkul atau tanpa dengkul samasekali bukan? Makanya saya curiga dengan apa yang ada di dalam batok kepala mereka. (more…)
Beberapa teman yang pernah nongkrong bareng saya di angkringan tugu, mungkin pernah mengalami kejadian di mana seorang pengamen berambut kriting kriwil-kriwil –dan pernah berkata kepada saya bahwa namanya adalah Mbak Mira– akan mendatangi saya dengan senyum sumringah lalu berkata “Halo Mas Andi..”, yang selanjutnya saya sambut dengan sama sumringahnya seraya menyerahkan beberapa buah karet gelang yang tadinya digunakan untuk membungkus nasi kucing yang saya makan.
Saya tidak pernah mengaku bernama Andi kepada Mbak itu, pernah sekali saya coba meralat namun dia masih menyebut nama saya Andi. Jadi selanjutnya saya biarkan saja, toh tidak ada ruginya bagi saya maupun dia
(more…)
Ketika mandi, tiba-tiba saya teringat dengan setiap orang gila yang saya jumpai di jalan-jalan. Setiap melihat mereka di jalanan, saya kemudian akan berlama-lama memandanginya. Ah saya iri dengan mereka, betapa bebasnya. Tapi baiknya kita bahas nanti saja, sekarang saya mo sarapan dulu
Pertanyaan yang muncul beberapa hari ini, kenapa harus dia? Kenapa bukan yang lain? Benar-benar membuat saya penasaran meskipun tidak akan membuat saya kehilangan kesadaran. Semoga.
Dalam ajaran agama yang saya anut, disebutkan bahwa ketika kiamat nanti akan diawali dengan tiupan seruling (sangka kala?) oleh Malaikat Israfil. Yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa harus Israfil? (more…)
Dalam beberapa bulan terakhir saya perhatikan di Boingboing sering muncul berita menggelikan tentang keamanan penerbangan namun membuat saya tidak habis pikir. Untuk menyebutkan beberapa saja, berikut yang berhasil saya temukan kembali.
Penumpang berkaos gambar Transformer dilarang terbang
Seorang pemuda yang memakai kaos bergambar robot Transformer sedang memegang senjata disuruh ganti kaos dulu atau tidak diperbolehkan ikut dalam pesawat. Kejadian ini terjadi di bandara Heathrow di London.
Kata petugas, kaos dengan robot bergambar robot memegang senjata tersebut bisa membahayakan penerbangan.
Ya ampun, memangnya gambar kaos bisa membahayakan penerbangan gitu? Sounds tupid but true. (more…)
Malam ini, dua tahun yang lalu. Saya sedang tertidur lelap setelah semaleman maen bilyar. Anak-anak kost yang lain sedang asyik-asyiknya bermain game Age of Empire II, saling lawan via LAN. Saya ingat bahwa jumlah motor melebihi kapasitas kost-kost’an sehingga ada yang diparkir merintangi pintu kamar saya.
Dua jam dari sekarang, dua tahun yang lalu. Tuhan mengetuk pintu, bertanya, “siapa yang mengaku umatku?”. Bumi seketika sujud, mengabaikan apa yang ditanggungnya. Bumi hanya ingin sujud kepada Tuhannya, dan manusia saling gerak mencari selamat.
Di tanah kelahiran saya (Purwodadi) terdapat sebuah perlimaan (simpang lima) dengan sebuah tower PAM di tengahnya dan dikelilingi oleh taman serta trotoar yang melingkari taman tersebut. Juga ditanami pohon cemara (atau pinus?) di sekeliling taman yang membuat suasana menjadi teduh dan nyaman. Setiap pagi dan sore trotoar tersebut digunakan untuk jogging oleh penduduk sekitar.
Suatu hari ada cabang cemara/pinus yang patah, jatuh dan menimpa pejalan kaki yang sedang berjalan di trotoar tersebut. Kabarnya korban mengalami gegar otak dan di rawat di rumah sakit. Siapa yang bersalah?
(more…)
Mungkin Anda-Anda sekalian sudah pernah membacanya, namun sengaja artikel berisi perbandingan bahasa-bahasa ras Austronesia ini saya simpan di del.icio.us agar saya selalu mengingatnya dan berpikir kembali: kenapa mereka mirip?
Terjadinya kemiripan dalam pengucapan angka satu sampai sepuluh yang dialami oleh bahasa lokal di Hawai, Jawa, Sunda, Toraja, Bali, Maori, Kiribati dan lain-lain tentu saja bukan suatu kebetulan. Bisa jadi sebenarnya mereka berasal dari satu induk yang sama. Bisa jadi kesekian banyak bangsa itu berasal dari satu daratan yang sama. Yang entah oleh sebab apa kemudian mereka merantau dan terpisah-pisah ratusan bahkam ribuan kilometer.
Dalam sejarah agama-agama Samawi, selalu diceritakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Nabi Ibrahim. Maka saya berandai-andai bahwa penghuni Nusantara ini bisa jadi adalah anak cucu dari orang-orang sebelum Ibrahim.
Lalu jika ditarik pohon keturunan (silsilah), bisa jadi juga urutan pohon kita lebih tinggi dari urutan pohon jika ditarik melalui garis keturunan Ibrahim.
Ah lupakan tentang pohon silsilah keturunan itu. Yang jadi fokus kali ini adalah kenapa bahasa-bahasa tersebut mirip satu sama lain?
Do you have any clue?
Saat ini saya lagi iseng dan sedang mengumpulkan fakta-fakta penunjang –atau fakta yang mematikan– keyakinan saya bahwa Nusantara ini adalah:
- Pecahan atau bagian dari Atlantis.
- Tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa di muka bumi.
- Bahwa bangsa kita adalah termasuk ras induk, di luar turunan Ibrahim.
- Kayu yang digunakan untuk membuat kapal Nabi Nuh berasal dari bumi Nusantara.
- Kalau Timur Tengah adalah tanah para Nabi maka Nusantara adalah tanah para Dewa.
- Bangsa kita mempunyai kebudayaan yang lebih tua dari Cina, Mesir, Yunani maupun Romawi.
- Dan beberapa lainnya..
Kalau Anda tidak percaya, itu hak Anda. Namun saya juga punya hak yang sama untuk tidak percaya dengan ketidakpercayaan Anda bukan?