Di tanah kelahiran saya (Purwodadi) terdapat sebuah perlimaan (simpang lima) dengan sebuah tower PAM di tengahnya dan dikelilingi oleh taman serta trotoar yang melingkari taman tersebut. Juga ditanami pohon cemara (atau pinus?) di sekeliling taman yang membuat suasana menjadi teduh dan nyaman. Setiap pagi dan sore trotoar tersebut digunakan untuk jogging oleh penduduk sekitar.
Suatu hari ada cabang cemara/pinus yang patah, jatuh dan menimpa pejalan kaki yang sedang berjalan di trotoar tersebut. Kabarnya korban mengalami gegar otak dan di rawat di rumah sakit. Siapa yang bersalah?
(more…)
Mungkin Anda-Anda sekalian sudah pernah membacanya, namun sengaja artikel berisi perbandingan bahasa-bahasa ras Austronesia ini saya simpan di del.icio.us agar saya selalu mengingatnya dan berpikir kembali: kenapa mereka mirip?
Terjadinya kemiripan dalam pengucapan angka satu sampai sepuluh yang dialami oleh bahasa lokal di Hawai, Jawa, Sunda, Toraja, Bali, Maori, Kiribati dan lain-lain tentu saja bukan suatu kebetulan. Bisa jadi sebenarnya mereka berasal dari satu induk yang sama. Bisa jadi kesekian banyak bangsa itu berasal dari satu daratan yang sama. Yang entah oleh sebab apa kemudian mereka merantau dan terpisah-pisah ratusan bahkam ribuan kilometer.
Dalam sejarah agama-agama Samawi, selalu diceritakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Nabi Ibrahim. Maka saya berandai-andai bahwa penghuni Nusantara ini bisa jadi adalah anak cucu dari orang-orang sebelum Ibrahim.
Lalu jika ditarik pohon keturunan (silsilah), bisa jadi juga urutan pohon kita lebih tinggi dari urutan pohon jika ditarik melalui garis keturunan Ibrahim.
Ah lupakan tentang pohon silsilah keturunan itu. Yang jadi fokus kali ini adalah kenapa bahasa-bahasa tersebut mirip satu sama lain?
Do you have any clue?
Saat ini saya lagi iseng dan sedang mengumpulkan fakta-fakta penunjang –atau fakta yang mematikan– keyakinan saya bahwa Nusantara ini adalah:
- Pecahan atau bagian dari Atlantis.
- Tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa di muka bumi.
- Bahwa bangsa kita adalah termasuk ras induk, di luar turunan Ibrahim.
- Kayu yang digunakan untuk membuat kapal Nabi Nuh berasal dari bumi Nusantara.
- Kalau Timur Tengah adalah tanah para Nabi maka Nusantara adalah tanah para Dewa.
- Bangsa kita mempunyai kebudayaan yang lebih tua dari Cina, Mesir, Yunani maupun Romawi.
- Dan beberapa lainnya..
Kalau Anda tidak percaya, itu hak Anda. Namun saya juga punya hak yang sama untuk tidak percaya dengan ketidakpercayaan Anda bukan?
Pada suatu malam di kaki Gunung Lawu, saya bertemu dengan seorang pengembara yang selalu berpindah dari satu gunung ke gunung lainnya hanya dengan membawa satu carrier, hammock untuk tidur dan satu kantong besar berisi entah oatmeal atau sereal untuk stok konsumsi dalam satu minggu.
Tanpa saling menyebut nama kami bertukar cerita di depan nyala api unggun, sementara teman-teman yang lain meringkuk mesra di dalam sleeping bag mereka masing-masing. Sang pengelana tadi bercerita kepada saya tentang prinsip hidupnya, dan saya tahu bahwa dia bermaksud agar saya memahaminya juga.
Bagi dia, di dalam hidup hanya perlu untuk berpegang pada tiga larangan: Jangan mengambil, jangan menolak dan jangan meminta.
Misalnya ketika lapar, jangan pernah mengambil hak orang lain, juga pantang untuk meminta. Namun ketika bantuan datang maka kita pantang juga untuk menolak.
Saya hanya manggut-manggut saja waktu itu, tak bisa berkata-kata atau entah karena kedinginan.
Di Cemoro Sewu itu saya habiskan malam tepat pada pergantian umur yang ke seperempat abad. Wah, sudah tua juga ya.

Dulu ketika masih kecil saya punya semacam kriteria untuk kecantikan seorang perempuan, bahwa perempuan yang cantik itu harus memenuhi kriteria x, y dan z. Jadi jika ada seorang perempuan yang tidak masuk dalam kriteria maka dia akan saya anggap tidak menarik.
Seiring bertambahnya umur kemudian saya menyadari bahwa semua jenis perempuan dalam tampang apapun ternyata memiliki daya tarik dan kecantikan dalam versi mereka masing-masing. Dan akhirnya muncul kesimpulan bahwa semua perempuan itu menarik.
Lalu tiba-tiba muncul pertanyaan dalam hati saya. Saya menganggap semua perempuan adalah cantik dan menarik itu merupakan suatu bentuk kedewasaan saya ataukah karena saya menjadi nggragas?
Nggragas itu Bahasa Jawa yang artinya doyan segala macam tanpa mempedulikan baik enggaknya.
Di sela-sela coding memerangi monster dan chatting, tiba-tiba saya kebelet pipis lalu segera menuliskan pesan brb
ke lawan chatting di pelosok dekat Kaliurang sana dan meluncur menuju kamar mandi.
Sambil pipis, tiba-tiba datang serentetan dialog ke otak saya. Terekam dengan sangat bagus dan kemudian segera saya kembali ke meja dan menuliskan dialog tersebut sebelum saya lupa lagi.
S: Tuhan, sampeyan yakin jika manusia itu mau nyembah sampeyan nanti?
T: Ya terserah mereka, yang jelas aku buat mereka untuk menyembah aku
S: Ijinkan aku membantumu Tuhan
T: Piye?
S: Kita pura-pura musuhan saja..
S: Nanti akan keliatan siapa yang suka ama sampeyan dan siapa yang gak suka.
Tak lama kemudian beredar kabar bahwa Tuhan marah ama Setan karena gak mau nurut untuk nyembah manusia..
Meskipun saya menganut agama yang dibawa Muhammad, namun Yesus adalah figur favorit saya. Setahu saya, dia sangat penyayang dan pencinta sesama. Dia bukan figur anti kekerasan melainkan pemuja perdamaian dan kasih sayang.
Guru SMA saya, seorang penyembuh, selalu menghadirkan figur Yesus dalam dirinya ketika sedang mengobati pasiennya. Beliau berkata, dengan membayangkan kasih sayang seorang Yesus, pasien beliau akan merasakan curahan energi sehingga kemungkinan sembuh akan lebih besar.
Dengan “fitur” sifat-sifat kemanusiaan sehebat itu, saya penasaran satu hal. Kira-kira waktu itu berapa banyak perempuan yang tergila-gila kepada pemuda tampan bernama Yesus itu?
Dalam anggapan masyarakat pada umumnya, stereotipe orang Yahudi adalah tidak pernah mau rugi dan selalu ingin untung. Namun pernahkan Anda berpikir bahwa kadang kita lebih Yahudi dari mereka? Coba perhatikan, dalam kasus kecelakaan sekalipun masih sempat-sempatnya dompet korban disikat, jam tangan diembat. Apa nggak melebihi Yahudi itu namanya?
Sehingga lama-kelamaan saya mulai setuju dengan pandangan bahwa keberadaan huruf j dan w dalam Jewish tentu saja bukan kebetulan sama dengan j dan w dalam Jawa. Begitu juga kemunculan huruf j dan v dalam Jehovah yang secara ajaib mirip dengan Java..
Begitu juga soal intelijen. Sepertinya belum pernah sekalipun –sepanjang sepengetahuan saya– mossad berani macem-macem ama negara ini (terlepas dari urusan industri tentu saja). Kenapa negara sejahil Israel belum pernah sekalipun menyentuh Nusantara, takut kepada saudara tua?
Orang bilang bahwa kita adalah anak cucu Ibrahim namun saya berpikir bahwa turunan Adam bukan hanya Ibrahim. Pasti dia masih punya sepupu-sepupu lain yang berada dalam satu level pohon keturunan. Lalu anak siapakah kita?
Terakhir, ada yang bisa memberikan referensi asal mula manusia Indonesia? Atau mungkin bisa dipersempit dengan asal mula manusia jawa saja.
Seorang guru memberikan tugas kepada muridnya untuk mengangkat dan memindahkan sebuah batu besar di depan padepokan mereka agar tidak merintangi jalan. Saat itu hanya ada mereka berdua dan si murid sudah sangat kepayahan saat berusaha memindah batu tersebut.
Lalu dengan wajah ketakutan si murid menghadap gurunya untuk melaporkan ketidakmampuannya.
“Maaf guru, saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk memindahkan batu itu. Namun ternyata saya tidak bisa..”
“Yakin kamu sudah berusaha sekuat tenaga?”
“Benar guru, saya telah mengerahkan segala daya dan upaya saya..”
“Ah bohong kamu. Kok belum minta tolong ke aku?”, sahut si guru enteng sambil njenggung kepala muridnya dan mengajaknya mengangkat batu itu bersama.
Saya adalah diri Anda sendiri dalam bentuk yang lain. Ketika Anda melihat keburukan di dalam diri saya, maka kemungkinan keburukan itu ada di dalam diri Anda juga. Ketika Anda membenci salah satu sifat saya, maka kemungkinan Anda mempunyai sifat yang sama dan sifat itu dibenci oleh orang-orang sekitar Anda.
Jika Anda melihat diri saya menyebalkan, kemungkinan Anda juga menyebalkan di mata orang lain.
Lalu bagaimana dengan Anda?
Anda adalah diri saya dalam bentuk yang lain. Ketika saya melihat keburukan di dalam diri Anda, saat itu juga saya harus bercermin dan sialnya saya menemukan bahwa saya mempunyai keburukan yang sama dengan yang Anda miliki atau bahkan kadang lebih parah.
Ketika saya membenci salah satu sifat Anda, ternyata ada orang-orang lain yang membenci sifat yang sama, yang kali ini menempel di diri saya.
Ketika saya lihat Anda menyebalkan di mata saya, ternyata kadang-kadang saya jauh lebih menyebalkan daripada Anda.
Begitulah, selalu saja seperti itu…