Setelah beberapa kali mati dan hidup lagi, kali ini Youtube downloader yang saya pasang di MOBI kembali tidak berfungsi. Penyebabnya adalah karena Youtube menerapkan aturan baru di sistemnya, bahwa alamat IP yang mendownload video haruslah sama dengan alamat IP yang mengirimkan request untuk menampilkan URI video.
Saat ini (dan biasanya) yang mengirimkan request ke Youtube adalah server MOBI kemudian yang mendownload video-nya adalah pengguna MOBI, maka IP-nya berbeda.
Ternyata hal ini dialami juga oleh KeepVid, hingga akhirnya sekarang mereka menggunakan Java applet untuk mendownload video tersebut dengan tujuan agar IP yang menggenerate URI video sama dengan IP yang mendownload video.
Hm, kira-kira adakah solusi lain selain applet Java?
Bagi Anda yang belum mengetahui, batu merah delima (beberapa menulis batu mirah delima) yang saya maksudkan adalah sebutir batu yang dipercaya mempunyai kekuatan khusus/ghaib. Tapi bukan kekuatan tersebut yang akan saya bahas di sini, itu di luar domain saya
Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana batu tersebut bisa berpendar mengeluarkan cahaya merah begitu terkena air. Iya, “menyala” begitu saja seolah-olah ada baterai dan bohlam di dalamnya.
Gambar di sebelah adalah salah satu foto yang saya ambil dari blog pusatpusaka yang menampilkan bagaimana batu tersebut berpendar. Tadinya saya ingin menggunakan kata berpijar, tetapi sepertinya kata berpijar mengandung konotasi panas/menyala.
Saya memang belum pernah memegang batu tersebut secara langsung, tetapi dari video dan foto yang saya lihat baik di televisi maupun di internet, it amazes me. Saya kagum bin gumun.
Sudah adakah ahli fisika (bukan metafisika) yang menyelidiki bagaimana batu ini bisa menyala? Matematikawati satu ini menanggapi pertanyaan saya tersebut dengan kemungkinan adanya zat apa gitu –saya cari di arsip twitter gak ketemu– yang memang bisa terbakar ketika bertemu air. Tetapi yang menjadi antitesis dari tanggapan tersebut adalah sepertinya batu merah delima ini tidak menjadi panas dan tidak ada bagian yang menjadi abu, sehingga kemungkinan tidak terjadi proses pembakaran.
Pancaran cahaya inilah yang biasanya dijadikan tolok ukur “kesaktian” batu ini. Semakin banyak dia bisa menerangi gelas air yang di jajar di sekitarnya, semakin tinggi nilai batu ini.
Oh iya, saya pernah melihat seorang pedagang di pasar Klithikan –ketika masih di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta– memajang tulisan di atas selembar kardus menawarkan batu merah delima ini dengan harga –biasanya disebut mahar, agar tidak diartikan sebagai jual beli komersil– 1 milyar rupiah.
Eh tunggu, ternyata di sini harganya 10 kali lipat. Wow.
Awal-awal bekerja dahulu, saya selalu berusaha menyempatkan membeli satu buku setiap usai menerima gaji. Waktu itu paling sering berburu buku tentang komputer. Tetapi sejak saya menyadari bahwa banyak buku-buku lokal yang ternyata hanya terjemahan belaka, atau tulisan ala kadarnya, maka jenis buku yang dicari menjadi berbeda.
Tapi itu duluuu. Iya, dengan beberapa huruf “u”.
Sekarang keadaan berbeda, buku-buku terbujur kaku di rak. Jangankan membeli buku baru, buku berjudul Muhammad tulisan Karen Armstrong yang saya beli beberapa tahun yang lalu saja belum selesai saya baca. Mengerikan.
Dan akibat tidak pernah membaca buku lagi, otak rasanya jalan di tempat, bahkan berhenti. Ini lebih mengerikan.
Kasihan buku-buku itu, menunggu untuk dibaca sedangkan saya sok sibuk dengan urusan dunia.

Bukan, saya bukan dari luar angkasa kok.
Selama ini saya lumayan sering main beberapa game yang ada obyek berupa rumah, rumah tersebut bisa diputar (rotate) sesuai keinginan saya. Maksudnya agar lebih menarik, menghadap jalan atau karena alasan lainnya.
Nah, besok saya akan memutar rumah lagi. Tetapi kali ini rumah beneran. Jadi rumah orang tua saya akan diputar, dari menghadap ke utara menjadi menghadap ke barat. Alasannya karena pekarangan rumah yang dulunya luas sekarang ditempati oleh rumah Mas Wik, kakak saya. Jadi rumah akan diputar agar menghadap ke jalan kecil yang ada di sebelah barat rumah saya.
Tentu saja memutarnya tidak semudah klik suatu menu lalu pilih menu rotate. Butuh beberapa manusia untuk menurunkan genteng, melepas papan-papan dinding baru kemudian memutar kerangka rumah dan memasang kembali papan-papan dan genteng rumah.
Rasanya tidak sabar menunggu beberapa jam lagi, saya akan pulang ke rumah orang tua untuk memutar rumah dan menengok sapi.

Ketika iseng narik-narik beberapa buku dari rak, pandangan saya terbentur pada beberapa kaset yang juga tergeletak di atas rak di antara buku-buku. Ada empat kaset, namun dua ini yang mendadak memberi inspirasi untuk menulis.
(more…)
Posting ini hanya berisi gambar, tulisan ini hanya sebagai keterangan saja.

Setelah beberapa tahun yang lalu PC saya tersambar petir dan rusak PSU-nya, lalu beberapa bulan yang lalu Macbook yang saya gunakan rusak power adapternya, sekarang giliran power adapter notbuk Compaq yang saya gunakan putus kabelnya.
Saya membaca di beberapa forum luar negeri, banyak yang bilang bahwa power adapter tersebut tidak bisa dibongkar dan sebaiknya beli baru saja karena jika dibuka bisa berbahaya. Saya tidak percaya begitu saja, saya tahu bahwa sangat mungkin akan ada bule pekok yang membuka power adapter tersebut dalam keadaan nyolok ke listrik. Maka dibuatlah peringatan untuk tidak membuka box power adapter tersebut.
Karena pisau lipat saya terlalu imut untuk digunakan mencongkel boks power adapter, akhirnya saya gunakan obeng minus dan satu gembok besar sebagai pemukulnya. Dalam beberapa menit saja sudah terbuka box power adapter tersebut.

Setelah sambung kabel sana-sini, balut dengan pembalut selotip plastik, maka jadilah power adapter tersebut bisa digunakan kembali.

Untung ada multimeter di kantor hihi..
Setelah lama menunggu, akhirnya Opera merilis versi final dari Opera 10 pada hari ini 1 September 2009.
Ada apa saja di Opera 10 ini?
- Opera Turbo, dengan teknologi kompresi yang cocok untuk koneksi lambat.
- Antarmuka yang baru dan lebih segar
- Penanganan tab yang lebih canggih
- Pengeja tulisan (spell checker)
- Ikon baru
- Email client yang lebih yahud
- Dan masih banyak lagi!
Untuk fitur teknis, silahkan langsung koprol ke halaman ini, sedangkan spesifikasi resmi langsung saja ke halaman press release Opera 10.
Impian saya untuk kembali ke Cakra Surya, akhirnya kesampaian juga. Hal itu bermula ketika Kenz mengajak jelatawan-jelatawati Cahandong untuk naik ke Gunung Lawu dalam rangka tujuhbelasan, tanggal 16-17 Agustus kemarin.
Nyaris berakhir di inbox, akhirnya saya berangkat berdua bareng Peri Kecil (ihiiiy) pada tanggal 16 Agustus. Rencana berangkat pagi gagal karena belum mendapatkan kompor gas juga beberapa logistik lainnya. Niatnya kami akan ketemu dengan Kenz di Cemoro Kandang karena dia berangkat dari Solo.
Tanpa perlu menceritakan panjang lebar rute perjalanan dari Jogja ke Tawangmangu, akhirnya kami sampai di Cemoro Kandang. Kami mampir di warung Mas Aris –yang legendaris– untuk sekedar mengisi perut sebelum memulai perjalanan panjang.
Satu porsi rica-rica dan satu porsi pecel cukup mengenyangkan, ditutup dengan segelas teh panas manis.
Di situ kami mencoba menghubungi Kenz, tapi ternyata hape kami tidak menerima satu sinyal pun. Akhirnya kami memutuskan naik dengan harapan ketemu Kenz di suatu tempat di atas gunung. Sekitar jam 16.30 WIB kami melapor ke basecamp dan memulai perjalanan.
(more…)