Bukan tentang dia
Ketika seseorang –menurut kita– bersalah, maka otomatis hati dan pikiran serta ucapan tentang dia tidak ada baiknya. Seolah lupa bahwa dia pernah berbuat baik kepada kita, seolah dia adalah manusia paling jahat se alam semesta.
Eh, saya tidak sedang membicarakan the smiling general yang saat ini sedang saya saksikan dengarkan acara pemakamannya di televisi. Saya berbicara dalam konteks yang lebih luas. “Dia” bisa berarti mantan pacar yang selingkuh, teman yang merebut pacar kita, atau siapapun yang menurut kita tidak layak untuk dimaafkan.
Saya hanya ingin bertanya, apakah kita lebih baik daripada dia? Atau, akankah kita melakukan hal yang berbeda –yang menurut kita lebih baik– saat kita berada di dalam posisi dia?
Ah lupakan, saya hanya sedang kesal dengan banyaknya orang yang tidak terlahir sebagai hakim namun mahir menghakimi, mengambil alih kuasa Tuhan untuk menentukan baik-buruknya seseorang, sementara Tuhan sendiri sebenarnya berada di atas segala kebaikan dan keburukan.

Yeni Setiawan
28 January 2008, 14:06:24 WIB
we’re never ever in the position to judge
28 January 2008, 14:52:11 WIB
podium…
weleh….
28 January 2008, 14:56:01 WIB
wes mulai lagi..nulis apa neh dik…sing semeleh yo le…kekekek
)
28 January 2008, 15:15:47 WIB
saya harap postingan ini bukan karena jeng sendal sedang demam kepanasan di pantai kemaren
btw, “slenthikan” sampeyan banyak yang mak nyus jeng
28 January 2008, 17:12:25 WIB
duh, semakin bijak nih….
28 January 2008, 18:37:07 WIB
saya juga kesal…
28 January 2008, 22:47:54 WIB
yupe aku rasa, aku setuju dengan ini, lebih baik diam saja, daripada kita harus meng-hakimi orang untuk sesuatu di-tengah ke-buruk-an dan ke-baik-an-nya.
mem-bukti-kan kata pepatah lama:
“gara-gara nila se-titik, rusak susu se-belanga”
28 January 2008, 23:40:04 WIB
apakah ini ada hubungannya dengan sesuatu yang kita bicarakan pagi tadi Pedro?*padahal sepagi ndak mbicarain apa apa*:lol:
29 January 2008, 00:33:39 WIB
Namanya juga orang lagi kesel, pasti pikiran nya negatif mulu. So…be positif.
29 January 2008, 00:55:41 WIB
orang bijak makan salak
Asal ga satu “peti” ga akan “mati”.
29 January 2008, 02:11:45 WIB
Tumben ngomong kayak gini…
*kabur*
29 January 2008, 06:25:20 WIB
kita sebagai manusia hanya bisa instrospeksi diri..kita juga tidak bisa menjustice diri kita lebih baik dari orang..
29 January 2008, 07:04:39 WIB
kok saya cenderung setuju sama sarah ya. *hayah*
kadang waktu hal negatif datang (kesal, marah, capek, iri, dengki (bukan pengki), tersakiti secara lahir batin ), orang cenderung susah untuk ngeliat dari sisi berbeda.
ya ya, egoisme manusia.
29 January 2008, 09:03:12 WIB
Kalo kita kesel lebih baik kita pijetan loh dik. Biar kesel nya ilang
29 January 2008, 10:16:28 WIB
pak yeni yang terhormatjikalau pak yeni sedang gundah hatisebaiknya pak yeni brangkat ke jakartananti saya antarkan kekawasan yang bikinhati pak yeni menjadi tenang…”taman lawang” jawabannya.
regards,
the kepiting
29 January 2008, 18:01:49 WIB
@jeng sarah : keknya be a negative deh.. *gara-gara baca buku “be a negative” karya Susan Naomi* so be negative!! ga semuanya melulu musti be postive hihi…
@the kepiting : loh bukannya tempatnya jeng yeni di lapangan banteng? CMIIW
Gara – gara nila setitik rusak susu sebelangga – mungkin itu jeng tepatnya… kebaikan seseorang akan dilupakan ketika orang tersebut berbuat jahat sekali pun.. karena kejahatan seseorang lebih awet diinget ketimbang kebaikkannya… (nyambung ga sih? hahaha…. podo wae)